Sabtu, 14 September 2019

KARHUTLA DAN OZON


Sampai tanggal 6 September 2019 data kejadian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejumlah 1.233 titik panas. Total sebanyak 9.072 personel dengan 37 heli dikerahkan untuk pemadaman titik api yang ada di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa (BNPNB, 2019). Bahkan hutan Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) tahun ini tidak lupat dari kebakaran hutan.

Analisis KR hari Sabtu, 14 September 2019

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sendiri bukanlah hal yang baru. Sejak beberapa dekade sangat sering terjadi karhutla, salah satunya hutan yang berada di lahan gambut. Tahun 2015 merupakan periode terburuk karhutla di Indonesia, kurang lebih 2.6 juta hektar hutan dan lahan terbakar. Para ahli mengungkapkan jika penyebab kebakaran hutan dan lahan karena faktor alam dan kesalahan manusia.

Faktor alam diwakili oleh kondisi cuaca yang turut melatabelakangi karhuta, karena tahun 2015 merupakan fase cuaca kering dampak dari El-Nino. Untuk faktor manusia berupa kelalaian manusia, baik secara individu ataupun disengaja. Dampak karhutla, khususnya di lahan gambut mengakibatkan peningkatan suhu.

Peningkatan suhu, pada dasarnya diakibatkan oleh gas efek rumah kaca yang membuat lapisan ozon rusak. Gas rumah kaca ini diakibatkan oleh berkurangnya kawasan hutan, serta masifnya eksploitasi alam. Peningkatan suhu di bumi salah satu implikasi logisnya ialah mengakibatkan perubahan iklim (climate change) (Setyawan, 2019). Menurut riset NASA (The National Aeronautics and Space Administration) maupun NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) yang merupakan badan independen pemerintah Amerika Serikat, mengatakan jika ada tren kenaikan suhu sejak tahun 2010 sebesar 1 derajat celcius.

koran KR halaman 7

Hal tersebut juga sama dengan hasil riset dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) yang menyatakan sejak era revolusi industri pertama hingga saat ini, telah terjadi peningkatan suhu sebesar 1-1.5 derajat celcius (Setyawan, 2019). Hal inilah yang mengilhami beberapa negara-negara yang tergabung di IPCC untuk sepakat menjaga suhu di bumi dengan berbagai pendekatan, salah satunya melawan deforestasi dan menerapkan aturan ketat terhadap korporasi. Bahkan untuuk mempercepat upaya aksi iklim di wilayah Asia pada tanggal 3-4 September 2019 telah dibentuk Asian Climate Experts (ACE). Kegiatan yang diselenggarakan oleh UNFCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) di Bangkok, Thailand ini dihadiri oleh Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIKI) mewakili negara Indonesia.

Menurut Peneliti Lingkungan Potensi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) -Eko Cahyono- karhutla sangat mempengaruhi perubahan iklim (2016). Saat terjadi pembakaran biomassa berupa karhutla, maka dihasilkanlah karbon monoksida (CO) yang menjadi pembentuk ozon. Tingkat ozon yang tinggi di atmosfer lapisan atas, yakni stratosfer memang baik. Ozon di lapisan itu akan melindungi makhluk bumi dari radiasi tinggi sinar matahari.
Namun, jika terjadi di atmosfer lapisan bawah, dampaknya ialah sebaliknya. Konsentrasi ozon di permukaan seharusnya rendah, tidak melebihi 100 ppbv (part per billion volume). Jika lebih dari batas, akan membahayakan kesehatan manusia (Cahyono, 2016). Sirkulasi angin juga akan memengaruhi tersebarnya ozon hingga mencapai bagian troposfer atas. Jika demikian, akan membentuk gas rumah kaca yang menjadi penyebab perubahan iklim.
Perubahan iklim lebih besar disebabkan oleh aerosol yang terlepas ke udara akibat kebakaran biomassa. Radiasi matahari sulit masuk ke bumi, penguapan air menjadi rendah, akibatnya tidak terjadi hujan (Cahyono, 2016). Mengingat pentingnya fungsi laposan ozon ini pada tanggal 16 September 1987, lahirlah kesepakatan Protokol Montreal, yang kemudian ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Ozon Internasional.
Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Protokol Montreal dan Konvensi Wina melalui Keppres No 23 Tahun 1992 tentang Pengesahan Konvensi Wina dan Protokol Montreal. Ini upaya Indonesia dalam perlindungan terhadap keberadaan lapisan ozon. Untuk mencegah perubahan iklim yang berakibat pada penipisan  lapisan ozon, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus mengampanyekan kelestarian lingkungan melalui penghijauan kembali melalui program penanaman kayu atau penghutanan kembali lahan-lahan yang sudah gundul.
Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK -Ruandha Agung -KLHK berkomitmen untuk melakukan penanaman pohon di atas lahan 800.000 hektar per tahun (2018). Tentu dampak perubahan iklim ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja, tapi merupakan tanggungjawab kita semua selaku penghuni planet bumi.
Lereng Tenggara Merapi, 12 September 2019, pukul 09.04 WIB

Sabtu, 10 Agustus 2019

GENERASI MILENIAL DAN KONSERVASI ALAM


Secara umum kesadaran kelompok kaum muda, khususnya kelompok milenial terhadap isu-isu lingkungan hidup dan konservasi alam. Bahkan banyak kelompok milenial yang aktif sebagai relawan pelestarian lingkungan demi kehidupan yang lebih baik. Peran generasi milenial dalam aksi-aksi konservasi alam ini sangat besar,
Generasi milenial menyadari bahwa saat ini kerusakan alam negeri ini semakin tidak terkendali. Laju kerusakan hutan, kebakaran, perdagangan tumbuhan satwa liar dilindungi, pencemaran air, hingga musnahnya terumbu karang semakin nyata. Negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa karena melimpah kekayaan alam dan lingkungan hidup semakin terancam.
Melalui Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2009, tahun ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengusung tema ‘Spirit Konservasi Alam Milenial’. Partisipasi aktif dan sifat kritis generasi milenial, khususnya di media sosial diharapkan dapat menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap konservasi keanekaragaman hayati di tanah air.
OPINI koran Kedaulatan Rakyat tanggal 10 Agustus 2019 halaman 11
Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1990an hingga 2000an. Jika diperhatikan dari tahun kelahiran tersebut, generasi milenial adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 18-38 tahun. Mereka adalah generasi yang pada  saat  ini memegang peran penting dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara (Suyitno, 2018)

Generasi millenial ini dilahirkan dalam kondisi zaman yang serba mudah dan   tersedia berbagai kemudahan. Mereka sejak awal kelahirannya sudah dapat menyaksikan TV berwarna yang dilengkapi dengan remote controll. Sejak masa sekolah, mereka sudah menggunakan handphone dan bahkan saat ini mereka sudah berganti smartphone. Dalam kehidupan kesehariannya, mereka selalu membutuhkan jaringan internet dan selalu berusaha untuk selalu terhubung dengan jaringan internet (Suyitno, 2018). Eksistensi sosial mereka ditentukan dari  jumlah “pengikut” dan “penyuka”.

Tujuan tema HKAN ‘Spirit Konservasi Alam Milenial’ adalah agar konservasi dapat dipahami oleh generasi muda. Tanggungjawab konservasi alam merupakan tanggungjawab bersama, termasuk generasi mudanya yang merupakan pewaris negeri. Kota Batam dipilih sebagai lokasi puncak peringatan HKAN 2019, karena mempunyai hutan yang berada di tengah kota industri Batam. Hal ini menjadikannya isu strategis mempertahankan kawasan konservasi di tengah laju industrialisasi di era generasi milenial.
Praktik riil konservasi alam oleh generasi milineal dicontohkan Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ). Melalui kegiatan PPBJ lahirlah Atlas Burung Jogjakarta (ABJ) seperti Jogja Bird Atlas, Jogja Interest Bird Map, hingga buku Capung di Yogyakarta. PPBJ sendiri bardiri pada tahun 2005 yang digagas oleh generasi milenial dari organisasi pengamat burung beberapa kampus di Yogyakarta (Anonim, 2016). Bahkan PPBJ beberapa tahun terakhir mempunyai binaan yakni desa Jatimulyo, kecamatan Girimulyo, Kulonprogo.
Cukup banyak kegiatan dilakukan di desa Jatimulyo untuk konservasi burung local yang menjadi incaran pemburu dan pedagang. Akhirnya pada tahun 2014 terbit Peraturan Desa (Perdes) Nomor 8 tentang larangan berburu segala jenis satwa liar di wilayah Desa Jatimulyo. Sejak saat itulah Desa Jatimulyo mendapat julukan ‘Desa Ramah Burung’.
Kelahiran Atlas Burung Jogjakarta (ABJ) memicu lahirnya Atlas Burung Indonesia (ABI). Melalui kegiatan Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) ke-5 di Bandung, Jawa Barat pada tahun 2015 dilaksanakan pengerjaan ABI. Apalagi setelah adanya peluncuran aplikasi ‘burungnesia’ pada smartphone pada tahun 2017 semakin memudahkan dalam pengerjaan ABI. Semuanya dikerjakan oleh generasi milenial yang peduli pada konservasi alam, terutama kedaulatan akan kekayaan jenis keanekaragaman hayati negeri.
Kegiatan konservasi ini dikerjakan secara swadaya, tanpa bantuan dari pemerintah, swasta maupun LSM. Dibalik ancaman globalisasi dengan adanya kecanggihan teknologi dan kemudahan akses informasi, kiprah mereka patut diapresiasi dan didukung. Terutama semangatnya untuk tetap menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bidang menjaga kelestarian alam demi masa depan anak-cucu.

Yogyakarta, 7 Agustus 2019 pukul 11.00 WIB
Ttd

Arif Sulfiantono,S.Hut,M.Sc.,M.S.I.
Fungsional PEH TNGM & Koordinator Ahli Perubahan Iklim & Kehutanan (APIK) Indonesia Region Pulau Jawa

Sabtu, 23 Februari 2019

JANGAN ANGGAP REMEH PARKIR

Pagi ini saat akan jemput anak-anak di sekolah makjegagik kaget,  ada daihatsu hijet putih (bukan tayo-nya Om Jack😂) parkir tepat di depan keluar masuk rumah. Padahal gerobag juga sudah siap meluncur,  di halaman juga ada 2 gerobag milik Om dan adik sepupu. Sungguh heran campur mangkel.

kendaraan sering banget parkir depan pintu pekarangan rumah😁

"Ini kok orang parkir tidak lihat kondisi sekitar, apakah menghalangi jalan orang lain atau tidak," batinku. Anggapannya mungkin dia nyaman parkir,  orang lain emang gue pikirin 😬.

Beberapa tahun terakhir ini fenomena seperti itu cenderung meninkat. Bahkan 2 bulan yang lalu ada mobil dengan 'nyaman' parkir di halaman masjid,  persis menghalangi jamaah salat masuk masjid.  Langsung aku foto terus kirim grup whatsapp masjid,  ternyata tidak ada yang tahu. Padahal ada jamaah difabel,  yang kakinya pincang karena habis operasi lutut 😬.

Plat B parkir 'nyaman' di masjid 😁

Telusur-telusur ternyata pemilik kendaraan adalah saudaranya salah satu warga yang memang jarang berinteraksi dengan kegiatan warga, apalagi masjid.

Kalau para doktor seperti DR.  Adian Husaeni mengatakan pemilik kendaraan ini tidak punya adab atau etika, yakni kemampuan mengetahui sesuatu pada tempatnya.  Sampai beliau Dr. Adian dan para ahli membuat buku dan kajian "The Lost of Adab", hilangnya adab dalam negeri ini.

Kalau Kang Saptuari Sugiarto lebih sadis lagi. Dalam media sosialnya beliau pasang gambar meme "Mana yang lebih perih: punya mobil tapi gak punya garasi atau punya garasi tapi gak punya mobil". Inilah dampak dari mudahnya kredit kendaraan.

Antara mobil dan garasi mana yang lebih penting? 

Untung salah satu warga pernah usul dalam sarasehan atau temu RT, agar mobil tidak parkir di jalan,  apalagi sehari-semalam. Bagaimana jika ada kebakaran, mobil pemadam kebakaran lewat mana??
Salah satu solusi mobil bisa parkir di lahan tetangga yang aman dan tidak menganggu.

Perkara parkir kendaraan memang perkara sepele,  tapi dapat menjadi masalah besar jika ada pembiaran. Apalagi jika membuat orang lain susah. 

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi ia menyakiti tetangga-tetangga dengan mulutnya.”. Maka berkatalah Rasulullah SAW: “Sungguh ia termasuk ahli Neraka.”

Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau Si Fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah SAW berkata: “Sungguh ia termasuk ahli Surga.” (HR.Muslim).

Ada satu pelajaran penting dari hadis di atas. Banyaknya ibadah tetapi adabnya rusak tidak membawa manfaat apa pun. Amalnya tidak bisa menyelamatkan dirinya, karena jiwanya buruk. Sebaliknya, jiwa yang bersih meski amalnya sedikit bisa menyelamatkan dirinya.

Sebagian ulama menasihati anaknya: “Wahai anakku, belajar satu bab adab itu sesungguhnya lebih aku sukai daripada kamu belajar tujuh puluh bab ilmu”. Imam Malik pernah menasihati imam Syafi’i ra: “Wahai Muhammad (Muhammad bin Idris As-Syafii), jadikanlah ilmu kamu sebagai garam dan adab mu sebagai tepung”.

Semoga menjadi pelajaran utama bagi penulis.

SDIT Alam Nurul Islam, 23 Februari 2019, pukul 11.00 WIB

Rabu, 06 Februari 2019

UMROHKAN IBUMU!

Tanggal 18 Januari 2019 teman kementerian kehutanan (sebuat aja Fulan) menghubungi untuk tanya info tentang umroh yang pernah kita posting di Facebook. Saat itu pas ada paket umroh 10 hari seharga Rp 16 juta, dengan cukup bayar uang muka untuk booking seat pesawat Rp 3 juta/orang. Fulan ini berencana mengajak ibunya untuk umroh. Langsung saya katakan kalau memang sudah tersedia uang untuk booking seat cepat diamankan terlebih dahulu, karena paket umroh hemat seperti ini dalam hitungan hari bahkan jam langsung habis. Insya Allah kalau niat kuat untuk ibadah dan birul walidain (berbakti kepada orang tua) akan dimudahkan dan dilancarkan oleh-Nya.

Esok harinya Fulan ini langsung kirim foto KTP dan transfer uang untuk booking seat. Setelah beres masalah lain muncul, yakni padatnya antrian pembuatan paspor. Kita beri info tentang kepengurusan paspor, suntik meningitis hingga biometrik (aturan baru dari Saudi Arabia). Sambil terus motivasi Fulan ini, Allah SWT akan beri kemudahan bagi yang husnudzon kepada-Nya.

Siang tadi sekitar pukul 11.14 WIB Fulan memberi kabar bahwa semua urusan dengan imigrasi sudah selesai, tinggal kirim berkas untuk pembuatan visa, sambil mengucapkan banyak terima kasih. Alhamdulillah, hati ini langsung ‘maknyes’ ikut bahagia sekali telah membantu saudara untuk beribadah. Sebuah kepuasan batin yang tidak terganti.



Memang benar sabda Rasulullah Saw untuk memuliakan orang tua, terutama ibu yang telah melahirkan kita, hingga kata ‘Ibu’ disebutkan sampai 3 kali oleh Rasulullah Saw:  “Ibumu .. ibumu .. dan ibumu.” Beberapa kali kita menyarakan kepada saudara dan teman jika masih mempunyai orang tua agar diajak untuk beribadah ke rumah-Nya, Baitullah. Yakin Allah SWT akan memudahkan semua urusan kita, termasuk kebarokahan akan senantiasa melingkupi hidup kita. Panggilan ke rumah-Nya adalah panggilan iman, bukan karena kita mampu, karena sangat banyak muslim yang sangat mampu ekonomi tapi belum sampai rumah-Nya. Malah tidak sedikit yang kurang mampu sudah sampai ke rumah-Nya. Masih ragu untuk beribadah ke rumah-Nya? Ingat tiap saat usia bertambah, dan kematian semakin dekat. Alllahu’alam.

Umroh Keluarga Hemat Yogyakarta, 6 Februari 2019

Sabtu, 22 Desember 2018

dari DESA RAMAH BURUNG ke DESA WISATA dan TANGGUH BENCANA

Pada KTT perubahan iklim ke-24 (COP 24) yang dilaksanakan di Katowice, Polandia pada tanggal 3 s/d 12 Desember 2018 Indonesia berperan menjadi percontohan negara berkembang dalam pengembangan kapasitas pengendalian perubahan iklim. Peran aktif Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim ini dibuktikan dengan semakin banyaknya aksi riil yang dilaksanakan masyarakat di daerah. Aksi riil ini sebagian besar diinisiasi dan dilaksanakan masyarakat secara swadaya di kelurahan atau pedesaan. Harapan masyarakat memang tidak hanya pada pengendalian perubahan iklim, tetapi menjadi kelurahan/desa tangguh bencana.


Opini koran Kedaulatan Rakyat tanggal 22 Desember 2018

Salah satu contoh aksi riil masyarakat kami sampaikan dalam pertemuan Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan (APIK) Indonesia di Jakarta (19/12) dengan menceritakan Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo. Desa ini terletak di dataran tinggi Pegunungan Menoreh yang mempunyai karateristik geomorfik rawan longsor lahan. Hasil survei menunjukkan bahwa selama 20 tahun (1990-2009) terdapat 187 kejadian longsor dengan empat tipe longsor yang tersebar di 6 kecamatan Kawasan pegunungan Menoreh (Priyono dkk, 2011). Kejadian bencana longsor lahan tersebut umumnya terjadi pada saat dan atau setelah kejadian hujan.

Longsor lahan akan terjadi pada saat ada hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu yang lama. Hujan selama lima hari terus menerus dengan intensitas 90 mm/hari atau lebih dapat meningkatkan frekuensi terjadinya longsor. Wahyono (1997) menyampaikan bahwa pada kenyataannya tidak semua wilayah berlereng mempunyai potensi longsor dan hal itu tergantung pada karakter lereng beserta materi penyusunnya terhadap respon tenaga pemicu terutama respon lereng terhadap curah hujan. Akhir tahun 2017 kemarin saat beberapa wilayah DIY dilanda longsor dan banjir akibat badai Cempaka, wilayah Desa Jatimulyo termasuk yang paling kecil kerusakan akibat longsor.

Hal ini karena masyarakat Jatimulyo menyadari akan kondisinya yang rawan longsor lahan dengan tetap mempertahankan hutan rakyatnya. Semua hutan rakyat yang ada di desa dengan luas wilayah 1.629,06 hektar ini milik warga lokal yang dibudidayakan dengan cara wanatani (agroforestry). Hutan rakyat ini merupakan kawasan tangkapan air dan habitat tumbuhan satwa liar yang unik dan spesifik. 7 obyek wisata alam berbasis mata air dan air terjun, yakni Kembangsoka, Goa Kiskendo, Curug Setawing, Grojogan Sewu, Kedung Pedut, dan Sungai Mudal mengantarkan Desa Jatimulyo memperoleh juara III Desa Wisata terbaik tingkat DIY pada tahun 2015.

Untuk melindungi 94 jenis burung di Jatimulyo (24 persen total jenis burung di DIY), tahun 2014 dikeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 8 yang melarang kegiatan perburuan di seluruh kawasan Desa Jatimulyo. Sejak saat itu Desa Jatimulyo mendeklarasikan diri menjadi Desa Ramah Burung. Salah satu jenis burung asli yang cukup sulit ditemukan di daerah lain, yakni Sulingan atau Sikatan Cacing (Cyornis banyumas) dijadikan brand nama produk unggulan Desa Wisata Jatimulyo, yakni Kopi Sulingan.

Tanaman kopi dipilih menjadi produk utama dari sistem wanatani hutan rakyat, karena kopi dibudidayakan dengan sistem ‘shaded grown tree’, yakni ditanam dibawah tegakan pohon atau di bawah naungan. Budidaya kopi dengan sistem ini mendukung fungsi konservasi tanah dan air dalam jangka panjang (Mulyoutami dkk, 2004). Kopi Sulingan menjadi salah satu dari empat alternatif pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan jasa lingkungan Desa Jatimulyo, yakni (1) Usaha kopi; (2) Ternak lebah klanceng; (3) Produksi gula aren; (4) Wisata tirta (Suparno, 2018).

Produk dari wanatani lain adalah tanaman buah; seperti salak, kelapa, pisang, jengkol, petai, nangka, rambutan, sawo hijau, alpukat, sukun, kakao, kopi, cengkeh; tanaman kayu yakni sengon, mahoni, waru, saman; tumbuhan obat yakni kapulaga, mahkota dewa, dan tumbuhan pakan ternak yakni kaliandra, singkong, gliricideae/polong-polongan (Budi dkk, 2012). Sistem wanatani hutan rakyat dijalankan oleh warga melalui 3 Kelompok Tani Hutan, yakni Wanapaksi, Mudhotomo, dan Karya Tani. Pengetahuan tentang wanatani mengantarkan warga memahami juga tentang peran konservasi tanah dan air dalam mitigasi bencana alam, yakni bencana longsor lahan.

Agar fungsi konservasi dan mitigasi bencana berjalan sinergis, pada tanggal 24 Mei 2017 Pemdes Jatimulyo membentuk kepengurusan Tim Siaga Bencana agar menjadi Desa Tangguh Bencana. Masyarakat Jatimulyo menyadari bahwa penanggulangan bencana alam bukan hanya tanggungjawab pemerintah, tetapi melalui kapasitas masyarakat yang bertumpu pada kemampuan sumber daya setempat (community disaster management). Transformasi Desa Jatimulyo dari Desa Ramah Burung menjadi Desa Wisata dan Desa Tangguh Bencana merupakan salah satu upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan bencana alam berbasis potensi masyarakat lokal.

Menara Peninsula Hotel, 19 Desember 2018 pukul 11.00 WIB

Senin, 26 November 2018

SERANGAN TAWON NGLANGGERAN

4 hari silam belasan wisatawan dan petugas obyek wisata minat khusus Gunung Api Purba di Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul terluka akibat serangan tawon (KR, 22/11). Dua orang petugas bahkan dibawa ke RS Nurrohmah Gunungkidul untuk mendapatkan perawatan intensif. Berita koran KR tanggal 22 dan 23 Nopember 2018 ini langsung saya share ke grup whatsapp Darurat Tawon Klaten.

Terbit di Opini Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 26 Nopember 2018

Hampir 2 tahun ini terjadi ledakan populasi tawon ‘ndas’ (Vespa affinis) di wilayah Klaten. Tercatat sudah 6 orang (3 anak-anak dan 3 lansia) meninggal dunia akibat ‘diserang’ tawon, korban terakhir tanggal 11 Nopember 2018. Kasus inilah yang mendasari pembentukan grup darurat tawon klaten. Walaupun sudah berjalan hampir satu tahun tapi kelompok yang terdiri dari Peneliti LIPI, dokter, pemerhati lingkungan, SAR, Pemadam Kebakaran ini belum optimal dalam penanganan serangan tawon, karena masih kurangnya dukungan Pemerintah Daerah.

Akhirnya kelompok ini bekerja swadaya semaksimal kemampuannya, terutama sosialisasi langsung ke masyarakat dan media massa. Salah satunya adalah pengetahuan masyarakat yang masih kurang tentang dunia serangga. Kasus di Nglanggeran ini ‘pelakunya’ menurut dugaan ahli serangga adalah tawon ndas (Vespa affinis), sama dengan kasus di Klaten. Walaupun lebah (Apis dorsata) yang disebutkan dalam berita KR ini juga dapat menyerang apabila terganggu.

Padahal ada perbedaan antara lebah (bee) dan tawon (wasp), yang utama adalah lebah menghasilkan madu sedangkan tawon tidak. Persamaannya adalah serangga ini menjadi agresif jika merasa terganggu. Dalam artikel medis ‘Journal of Emergency Practice and Trauma’ volum 2 tahun 2016 disebutkan bahwa korban sengatan tawon ndas (Vespa affinis) menderita gagal ginjal akibat racun sengatannya.


6 korban meninggal di Klaten juga disebabkan karena penanganan yang terlambat dan kurang tepat. Dokter Tri Maharani (ahli penanganan korban racun satwa) menganjurkan pertolongan pertama (First Aid) untuk korban sengatan tawon, yakni cabut sungutnya, perawatan luka, kompres dengan es, beri obat analgesik oral, dan corticosteroid (2018). Untuk tahap trauma perlu penanganan khusus di rumah sakit.


Sedangkan untuk penanganan peningkatan tawon juga perlu pengetahuan yang memadai. Perlu diingat serangga membawa peran besar bagi kelangsungan hidup manusia, terutama untuk keseimbangan ekologi. Tawon ndas Vespa affinis juga memiliki peran dalam mengendalikan hama pertanian jenis ulat pemakan daun dan serangga kecil lain. Peran lain yang sangat penting dari serangga adalah indikator dari adanya perubahan iklim dan kebersihan lingkungan.


Interaksi tawon dengan manusia ada 4 tingkat, yakni 1. Tidak terganggu/mengganggu, sehingga tercipta Rukun-Harmonis; 2. Terganggu, tapi menghindar; 3. Terganggu, menyerang karena bertahan/melindungi diri; 4. Terganggu, memiliki kemampuan melawan dan menyerang (Kahono, 2018). Selain itu juga perlu diperhatikan tentang peristiwa yang mendahuli terjadinya serangan tawon; yakni melimpahnya jumlah pakan; sedikitnya musuh alami atau kompetitior rendah; habitat bersarang asli yang berkurang sehingga mendekati pemukiman penduduk; seringnya perjumpaan dengan manusia; memyengat karena tidak sengaja (melindungi diri); dan tedesak/terpaksa karena melindungi koloninya.

Dalam pengendalian tawon perlu juga memperhatikan berikut ini; yakni Pengendalian populasi hendaknya melalui pengelolaan dengan memperhatikan prinsip ekologi; eradikasi dan pemindahan sarang/koloni; pemusnahan sarang hanya pada lokasi yang membahayakan manusia; dan keselamatan jiwa masyarakat adalah hal utama (Nugroho, 2018). Selain itu jika dilakukan penanganan sarang tawon juga perlu memperhatikan hal-hal berikut ini, yakni: 1. Tawon termasuk diurnal, yakni aktif pada siang hari; 2. Penanganan diusahakan dengan tidak membakar sarang karena akan membuat tawon agresif; 3. Memindahkan sarang tawon pada saat malam hari atau hujan, karena saat tersebut tawon tidak aktif; 4. Lebih baik memindahkan sarang tawon saat ukuran masih kecil; dan 5. Membuat tanda khusus lokasi sarang tawon yang tidak dipindahkan atau tidak dimusnahkan.

Tentu penanganan akan lebih optimal jika melibatkan semua potensi pemerintah dan masyarakat, karenan wabah tawon merupakan penanganan jangka panjang. Wabah tawon mengajarkan kembali kepada manusia agar lebih mengenal alam sekitar, serta hidup harmonis berdampingan bersamanya.


Patangpuluhan, 23 Nopember 2018 pukul 11.00WIB

Senin, 05 November 2018

MERAJUT KEDAULATAN BANGSA MELALUI AVITURISME

Ditengah semangat peringatan kebangkitan pemuda 90 tahun yang lalu, sekelompok muda asyik dan serius bekerja untuk bangsa. Mirip dengan pendahulunya, mereka juga berjuang untuk kedaulatan dan masa depan bangsa. Perjuangan utama mereka adalah agar bangsa ini memiliki kedaulatan dalam bidang sains ornithology (burung) serta konservasi burung Indonesia.

Opini koran Kedaulatan Rakyat tanggal 5 Nopember 2018

Sebuah fakta kekayaan jenis burung Indonesia luar biasa, ada 1700 jenis. Urutan ke empat di dunia, sedangkan dari segi endemisitas (jenis asli) menempati urutan pertama. Bertentangan dengan kekayaan jenis, kondisi ahli burung Indonesia masih menyedihkan. Jumlah ahli taksonomi burung masih sangat minim, dari 1700 jenis burung hanya dua orang Indonesia yang jadi pendeskripsi utamanya.

Satu-satunya jurnal ilmiah ornitologi Indonesia yang bernama Njawani, yakni Kukila; dan berlogo burung endemik Sulawesi -Maleo-, editornya tidak ada dari Indonesia. Oleh karena itu, sekelompok pemuda tiap tahun getol menyelenggarakan pertemuan nasional untuk merajut kedaulatan bangsa melalui Pertemuan Pengamat Burung Indonesia atau PPBI.

Tahun 2018 ini adalah PPBI ke VIII diselenggarakan pada tanggal 2 sampai 4 November 2018 di Yogyakarta, tepatnya di Universitas Ahmad Dahlan dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo. Tema yang dipilih adalah Merajut Aviturisme Indonesia. Tema ini terinspirasi kisah sukses Ibu Shita selama 20 tahun mengelola wisata alam aviturisme di Papua yang berhasil merajut kedaulatan bangsa melalui pelibatan masyarakat lokal.

Program penguatan kapasitas masyarakat lokal dalam kegiatan wisata alam aviturisme di Papua mampu meningkatkan ekonomi desa, sekaligus melindungi kekayaan alamnya. Warga dididik dan dilatih mengenal potensi keanekaragaman hayatinya terutama potensi burung surga cenderawasih (Paradise Bird), sehingga menjadi pemandu wisata alam yang handal. Papua kini menjadi salah satu aviturisme favorit para birder (pengamat burung) tingkat dunia.

Aviturisme adalah perjalanan wisata alam untuk melihat dan mengamati burung di habitatnya (Nicolaides, 2013). Aviturisme merupakan gabungan dari wisata alam (ecotourism) dan pengamatan burung (bird watching/birding). Ekowisata sendiri adalah aktivitas wisata berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pendidikan/pembelajaran, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Sedangkan pengamatan burung adalah kegiatan mengamati segala tingkah laku burung di habitat alam dengan menggunakan peralatan seperti binokuler (teropong) atau kamera. Birder (pengamat burung) biasanya tidak hanya melakukan kegiatan birding, tapi juga aktif dalam kegiatan konservasi alam lainnya, seperti penanaman pohon, aksi kebersihan lingkungan dan lainnya. Tiongkok dan Afrika Selatan adalah salah satu dari negara yang giat mempromosikan aviturisme untuk meningkatkan kunjungan pariwisata.

Alasan utama dipilihnya Desa Jatimulyo sebagai tempat PPBI VIII karena sudah bertransformasi menjadi Desa Ramah Burung melalui Perdes No. 6 tahun 2014. Desa ini  memiliki 95 jenis burung, 18 diantaranya berstatus dilindungi Negara. Jatimulyo juga memiliki produk unik ‘Kopi Sulingan’, dimana  kata sulingan berasal dari nama lokal burung Sikatan Cacing (Cyornis banyumas), sejenis burung pemakan serangga yang cantik dan bersuara merdu, yang sulit ditemukan di daerah lain.

Daerah lain yang sering dikunjungi untuk aviturisme lingkup Propinsi DIY adalah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), pantai Trisik Kulonprogo, Kawasan Candi Prambanan, dan Pantai Ngongap Gunung Kidul (Taufiqurrahman, 2018). Bahkan tiap 2 tahun sekali Balai TNGM menyelenggarakan lomba pengamatan burung tingkat nasional.

Selain itu sebenarnya aviturisme dapat menjadi wahana pendidikan dan pembelajaran. Hal ini dipraktekkan oleh Bapak Lim Wen Sin yang meng-edukasi warga Dusun Cacahan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman melalui burung pemangsa burung hantu jenis Serak Jawa (Tyto alba javanica). Warga desa dilatih untuk memanfaatkan burung hantu sebagai pengendali hama pertanian jenis tikus.

Hasil dari pemanfaatan burung hantu dapat meningkatkan hasil pertanian sebanyak 15 hingga 20 persen. Pengamatan Lim Wen Sin (2017) sepasang burung hantu yang menyuapi 2 anaknya dalam 2,5 bulan dapat memakan 1.080 ekor tikus. Kini Dusun Cacahan menjadi salah satu lokasi aviturisme sekaligus belajar pertanian ramah lingkungan.

Aviturisme tentu menimbulkan multi efek bagi ekonomi masyarakat lokal, karena birder tentu juga akan membutuhkan makanan, jasa pemandu, transportasi, penginapan, dan lain sebagainya. Sugeng rawuh birders peserta PPBI VIII di Yogyakarta, selamat bekerja untuk Merajut Kedaulatan Bangsa!

Yogyakarta, 31 Oktober 2018 pukul 07.01 WIB