Sabtu, 17 Februari 2024

MENGENAL BEIJING MELALUI BIRD WATCHING

 Artikel lama lagi, di buletin MERAPI, September 2013, semoga manfaat 🙏


Burung selain sebagai indikator penting dalam menentukan daerah-daerah prioritas pelestarian alam, juga dapat menggambarkan kondisi masih utuhnya suatu kawasan alam. Hal inilah yang menjadi alasan utama saya untuk bergabung dalam komunitas pengamat burung di Beijing-China, yakni Beijing Bird Watching Society (BBWS). Apalagi melalui kegiatan bird watching dapat sekalian berwisata alam murah meriah.

 

Bird Watching di China

Dalam buletin Hongkong Bird Watching Society nomor 205 tahun 2008, kegiatan bird watching di daratan China sendiri dimulai awal tahun 1980an. Saat itu juga awal munculnya reformasi ekonomi di China, serta mulai diijinkan sejumlah diplomat atau delegasi untuk melakukan penelitian. Walaupun begitu, klub pengamat burung Hongkong (Hongkong Bird Watching Society) sudah berdiri pada tahun 1957. Beijing Bird Watching Society sendiri baru berdiri pada tahun 2004, masih relatif muda.

 




Saya sendiri mengenal teman-teman BBWS setelah diajak ikut bird watching oleh teman dari LIPI, seorang birdwatcher tanah air yang juga ambil master di Beijing, dan mantan mahasiswanya Kang Bas (Karyadi Baskoro, dedengkot bird watching Indonesia) di Biologi UNDIP. Ternyata walaupun menyandang sebagai ibukota dengan jumlah penduduk sebanyak sekitar 20 juta orang (dua kali Jakarta), Beijing masih banyak menyisakan ruangnya untuk kawasan alam. Dengan luas sebesar kira-kira 16.000 Km2, luas tutupan hutan (forest cover) di Beijing pada tahun 2012 mencapai 38,6%, naik dari 12,83% di tahun 1980.

 

731 National Forest Park/NFP (taman nasional) di China, 15 diantaranya ada di Beijing. 15 NFP ini melengkapi kawasan pelestarian alam selain Zoo (kebun binatang), Park (taman), Lake (danau), Botanic Garden (kebun penelitian alam), dan Mountain (gunung/pegunungan). Semuanya dikelola dengan profesional dengan anggaran yang tidak sedikit jumlahnya.

 

South Gate Forest Park

Pengalaman yang paling berkesan dalam saat birdwatching bersama teman-teman BBWS adalah saat pertama kali bird watching di South Gate Forest Park (kompleks Stadion Olympic) dan diMiyun Reservoir (90 Km dari pusat kota Beijing). Ini yang menarik, ternyata di kawasan stadion juga ada kawasan alam yang sangat indah, walaupun berupa buatan manusia. Tepatnya dibangun menjelang Olimpiade Beijing tahun 2008.

 

Hari Ahad tanggal 11 November 2012, saat itu awal musim dingin. Kondisi di luar sangat dingin, apalagi saat angin bertiup kencang. Walaupun begitu, saya dengan semangat 45 berangkat untuk kegiatan bird watching perdana pada pukul 07.00 pagi dari kampus Beijing Forestry University. Dengan menggunakan kereta cepat atau disebur subway, perjalanan menuju South Gate Forest Park lumayan singkat, hanya sekitar 20 menit. Subway adalah transport favorit Beijing, karena dengan tiket sebesar 2 RMB (Rp 3000,-) sudah dapat keliling Beijing.

 

Kawasan South Gate of Forest Park sendiri sangat luas, ada danau kecilnya dan sungainya juga. Bagus sekali untuk wisata keluarga, apalagi biaya masuk gratis. Lokasi juga tertata rapi. Ada beberapa bagian tumbuhan cemara, jenis pinus dan poplar, ada juga kawasan padang rumput yang kering dengan air yang menggenanginya.

Aksi sebagian anggota BBWS saat di South Gate Forest Park

 

Beberapa bebek liar (mallard) jenis Anas platyrhynchos asyik bermain di danau kawasan padang rumput. Ada beberapa jembatan kayu yang membelah padang rumput berair ini, dan dapat dipakai pengunjung menikmati kawasan. Kalau pengunjung teliti akan terlihat beberapa jenis mallard, bangau (heron), dan burung air (shore bird).

Mallard jenis Anas platyrhynchos saat terbang

 

Awalnya kami berjalan di area hutan pinus. Di lokasi ini kami menemukan burung jenis bulbul (Pycnonotus aurigaster) atau sejenis kutilang di Indonesia. Kemudian beralih ke lokasi padang rumput. Disini kami banyak menemukan jenis Mallard.

 

Mallard jantan yang berwarna hijau dan putih saat berenang di air akan diikuti 2-3 ekor betina yang berwarna putih-coklat menjadikan pemandangan sangat menarik. Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna. Sesekali terlihat bebek terbang, kemudian mendarat di air. Subhanallah, sungguh luar biasa ciptaan-Nya saat berkolaborasi di alam.

Mallard jantan berenang diikuti Mallard betina

 

Walaupun kami tetap kedinginan, kami semangat dan menikmati birdwatching ini. Apalagi ditunjang dengan tidak banyaknya pengunjung yang ada di kawasan ini. Faktor awal musim dingin dimungkinkan menjadi penyebab sedikitnya pengunjung. Sesekali terlihat beberapa pengunjung tamasya dengan membawa kamera dan tongkat untuk membantu berjalan. Ada juga yang berolahraga jogging dan sepeda.

 

Momen yang menarik adalah saat mengamati burung jenis shore bird (burung di air) di jembatan kayu yang membelah padang rumput. Kami juga melihat Raptor/elang jenis Accipiter nesus yang terbang, sepertinya mengejar jenis Magpie (Pica pica).

Pengamatan di bagian padang rumput yang berair

 

Keasyikan lainnya adalah saat mengamati burung jenis ‘pelanduk semak’ yang bersembunyi dan berkamuflase di semak. Sepertinya sarangnya ada di dalam semak tersebut, karena burung tersebut senantiasa berada di lokasi tersebut. Baru kali ini saya melihat burung jenis pelanduk semak dengan sangat jelas. Di Merapi tidak pernah dapat melihat bentuk asli jenis burung pelandung semak, hanya terbatas mendengar suaranya saja.


Saat berada di dekat danau yang besar, tiba-tiba kami melihat sejenis bangau. Ternyata seekor bangau (grey heron) jenis Ardea cinerea sedang berdiri mematung di pinggir danau. Warnanya abu-abu dan putih. Begitu puas mengamati burung tersebut, kami segera beranjak untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00.

 

Miyun Reservoir

Sepekan setelah birdwatching di South Gate of Forest Park, aku diajak lagi untuk birdwatching di Miyun Reservoir. Sebuah kawasan pertanian dengan danau yang cukup luas.

Saat berangkat dari kampus setelah sholat shubuh pukul 05.40, di luar masih gelap dan lumayan dingin. Ternyata kami berangkat bersama siswa Middle School atau sekolah setingkat SMP.

 

Yang bikin iri adalah banyak siswa tersebut bersenjata kamera DSLR yang mahal dengan ‘termos’ alias lensa besar ukuran 500mm. Perjalanan selama 2 jam menggunakan bus sampai di Miyun Reservoir. Tanahnya seperti jenis grumusol, terasa liat, lengket dan licin di sepatu.

Siswa SMP dengan kamera termos, membuat iri saja

 

Daerahnya sangat luas, karena ada perahu pencari ikan juga. Beberapa mobil terlihat ada di tepi danau. Ternyata mereka pemancing. Mayoritas jenis burung air seperti duck/mallard, goose, dan swan.

 

Banyaknya jenis bebek saat berenang di danau, kondisi berdiri di tepi danau, atau terbang menjadikan pemandangan yang menakjubkan. Subhanallah, sungguh kebesaran Tuhan menciptakan makhluk yang luar biasa. Semuanya langsung dalam posisi nyaman untuk memotret maupun mengamati dengan binokuler atau monokulernya.



Saat menjumpai jenis baru semuanya langsung tertarik untuk mengamati dan memotret. Seperti saat melihat raptor Hen Harrier jenis Circus cyaneus yang cukup besar sedang terbang soaring. Kemudian jenis shore bird lain seperti black tailed gull (Larus crassirostris).

 

Harus jeli untuk menemukan jenis shore bird karena hanya ada satu-dua ekor di tepi danau dan berada diantara banyak bebek. Warnanyapun hampir mirip dengan lingkungan sekitarnya. Kamuflase yang bagus.

 

Sekitar pukul 14.00 kami beranjak pergi menuju bus untuk pulang. Sepanjang perjalanan mata kami tetap siaga mengamati seandainya ada jenis baru lagi. Ternyata benar. Kami menjumpai jenis baru yang sedang bertengger di tanaman jagung yang sudah kering..

 

Sampai Middle School lagi ternyata kami diajak salah seorang guru senior untuk makan malam di sebuah restoran cukup mewah. Wah, perjalanan yang sangat menyenangkan. Dari berawal dua tempat inilah saya semakin mengenal kawasan wisata alam di Beijing dan ‘blusukan’ di dalamnya.





PENGARUH KONFUSIANISME DAN TAOISME DALAM PENGHUTANAN (REFORESTATION) DI CHINA

Mengenang artikel lama yang tayang di Buletin KONSERVASI Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan & Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan tahun 2013


Dunia sekarang menghadapi ancaman bencana lingkungan sebagai masalah global. Perlu direnungkan pendapat sosiolog Kanada John O’Neil bahwa kita mungkin adalah peradaban pertama dan mungkin sebagai yang terakhir. Memprihatinkan bahwa manusia sekarang ini seakan-akan tidak peduli pada lingkungan, dunia, dan habitat alamnya (O’Neill, 1985: 12).


Jauh sebelum pendapat O’Neill itu muncul, China sudah benar-benar berkomitmen membangun hutan untuk melindungi keanekaragaman hayatinya. Pasca terbebasnya China dari penjajahan Jepang, dibawah kepemimpinan Mao Zedongm China melakukan pembangunan besar-besaran, terutama penghutanan kembali (reforestation). Luas tutupan hutan (forest cover) dapat meningkat dari 8,6% di awal tahun 1950an dapat meningkat menjadi 18,21% di tahun 2008. Padahal mayoritas kondisi tanah di China adalah jenis karst (rocky desertification) dimana minim air dan tanah serta susah diolah.


Berkat usaha besar yang disertai semangat yang tinggi, kawasan hutan dapat bertambah dari 115,28 juta hektar diawal tahun 1950an menjadi 174,91 juta hektar di tahun 2008. Yang luar biasa adalah kota Beijing sebagai ibukota China. Luas tutupan hutan di Beijing meningkat dari 1,3% di tahun 1949 meningkat menjadi 38,6% di akhir tahun 2012.


Selama 32 tahun sudah lebih dari 78 juta orang melakukan penanaman sejumlah 189 juta pohon di ibukota China ini dengan tingkat keberhasilan 88%. Penanaman pohon sudah menjadi gaya hidup sebagian orang China sehingga senang terlibat dalam proyek penghutanan kembali. “Membingkai hutan dan membiarkan pohon tumbuh” merupakan salah satu dari 8 hal yang membuat China kini terus bangkit menjadi pemain utama dalam pentas politik global. (Naisbit, 2010). Sikap mental ini sudah dibangun dengan modal dasar kultural dan ideologi yang kuat yang telah diwarisi dan dimilikinya semenjak dulu hingga saat ini.



Publish di Artikel Buletin KONSERVASI, Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan Indonesia 2013


Pandangan Filsafat Cina tentang Kesatuan Manusia dan Alam

Filsafat China atau Sinism lazim digunakan untuk menspesifikasi atau meng-identifikasi sekelompok karakteristik unik bangsa China. Apa karakter dari kesatuan manusia dan alam yang berakar dalam Sinism? Yaitu pengenalan moral dan peneguhan oleh setiap orang tentang keberadaannya dengan orang lain –bukan hanya hidup dan mati tetapi juga sebelum dilahirkan—dan dengan makhluk hidup dan tak hidup lainnya (Subekti, 2010). Itu berarti hubungan timbal-balik mutlak, yang tidak perlu dipertanyakan, tidak dikualifikasikan dan ikatan khusus dari ko-eksistensi makhluk hidup dan benda, piety adalah sebuah kebajikan moral.


Berdasarkan perspektif Sinism, ecopiety merupakan tenunan moral dari laki-laki dan perempuan yang  menganyam bersama seluruh makhluk dan benda. Ini tersusun dari karakter Yang dari humanisme dan karakter Yin dari environmentalisme yang bersifat komplementer. Ringkasnya: sebagaimana Sinism merupakan kesatuan dari Konfusianisme yang ortodoks dan Taoisme yang heterodoks yang bersifat komplementer, maka ecopiety sebagai kesatuan dari humanisme dan environmentalisme juga bersifat komplementer (Subekti, 2010).


Humanisme Perspektif Konfusianisme

Konfusianisme atau biasa dibunyikan dengan Kong Hu Cu, di kaitkan dengan nama pendiri ajaran ini yaitu Kung Fu Tze (551-479 SM). Humanisme adalah karakteristik Konfusianisme. Ini adalah perhatian dan penghormatan kepada laki-laki dan perempuan lain sebagai pribadi. Secara tradisional, model klasiknya dikenal dengan “filial piety” (Hsiao)—kesetiaan seorang anak laki-laki kepada ayah atau orang tuanya (Subekti, 2010). Konfusianisme seringkali dikarakteristikan sebagai “humanisme praktis” karena kepeduliannya dengan seni praktis tentang kehidupan manusia dengan sesama dalam kehidupan dunia sehari-hari.


Humanitas bertumpu pada manusia –humanitas dalam dua-serangkai arti manusia sebagai kolektivitas, dan kausalitas asli manusia –jen adalah pilar humanisme praktis Konfusius. Tanpa jen, tanpa mempraktikkannya, manusia tidak akan menjadi manusia seutuhnya. Menjadi seorang manusia (jen) adalah menjadi insani (jen): sesungguhnya, jen adalah jen.


Menurut Analect of Confusius, jen adalah mencintai semua manusia dan chih (pengetahuan) adalah mengenal semua manusia. Dalam Li Chi (Kitab Upacara), Konfusius berkata tanpa pandangan hidup yang sama: “Menebang sebuah pohon, membunuh seekor binatang yang belum kawin, tidak pada musim yang tepat, adalah bertentangan dengan filial fiety.” (Li Chi, 1967: 228).


Menurut cara tersebut, tujuan moral dari bakti kepada orangtua tidak dibatasi pada dampak dari apa yang dilakukan manusia pada  orang lain tetapi diperluas pada dampak perilaku seseorang bagi makhluk non-human dan benda-benda. Teringat perkataan Konfusius mengenai musik, yang dimainkan sebuah bagian integral dari arti China kuno tentang benda-benda dan peristiwa sebagai kesatuan yang teratur, sekali lagi kita temukan dalam halaman kitab Li Chi sebagai berikut:


Langit ada di atas dan bumi di bawah, dan di antara keduanya tersebar semua jenis kehidupan dengan perbedaan (sifat dasar dan kualitasnya); --berkenaan dengan proses pembentukan perayaan. (Pengaruh) langit dan bumi mengalir maju dan tak pernah berhenti, dan dengan kesatuan tindakannya (fenomena) produksi dan perubahan terjadi: --berkenaan dengan itu musik mengalun. Proses pertumbuhan di musim semi, dan dewasa di musim panas (menyarankan ide tentang) kebajikan; mereka berkumpul di musim gugur dan di musim salju, menyarankan kebenaran. Kebajikan serupa dengan musik, dan kebenaran serupa dengan perayaan.

 

Environmentalisme Perspektif Taoisme

Taoisme berasal dari seorang yang bernama Lao Tzu yang diperkirakan lahir tahun 640 S.M. Environmentalisme merupakan prinsip dominan dalam Taois. Taoisme tidak menyingkirkan humanisme. Pada Bab 25 Tao Te Ching, dapat ditemukan ekspresi yang mengharukan dari ecopiety, sebagai contoh bahwa Tao (Jalan) sebagai ecopiety (Subekti, 2010):

 

Ada sesuatu yang campur-aduk, dan kacau-balau,

Ia sudah ada sebelum langit dan bumi,

Betapa sunyi! Betapa sepi!

Ia berada dengan sendirinya, dan tak pernah berubah,

Bergerak berputar, tak henti,

Ia layak menjadi ibu alam semesta,

Ku tak tahu siapa namanya,

Terpaksa kunamakan Tao,

Kusebut dia sebagai yang besar.

 

Besar bermakna meluas (mencapai segala tempat),

Meluas berarti menjauh (ke segala arah),

Yang pergi menjauh akhirnya akan balik kembali (ke asalnya).

 

Karena Tao itu besar, maka

Langit juga besar, bumi juga besar, dan manusia juga besar,

Di dunia ini ada empat besar, dan manusia adalah salah satunya.

 

Manusia meneladani bumi,

bumi meneladani langit,

langit meneladani Tao,

dan Tao meneladani dirinya sendiri (tsu-jan).

 

Tsu-jan (dirinya-sendiri) menjadi dasar environmentalisme dari Taoisme. Hal ini menggarisbawahi kemampuan estetik kita untuk menghormati dan penghargaan terhadap seluruh keberadaan benda-benda di alam.


Environmentalisme Taois merasa senang dengan keindahan alam, liar, sederhana, dan kecil, dalam keindahan intrinsik alam yang membuat manusia memandang penuh penghormatan dan imajinasi puitis. Hanya dalam bersekutu dengan alam dan kosmos seorang manusia benar-benar menjadi seorang “cosmion”. Seperti Taois Chuang Tzu mengungkapkan dengan suara tenang: “Langit dan bumi lahir bersamaan denganku, dan sepuluh ribu benda bersatu denganku”.

 

Manajemen Pengelolaan Hutan di China

Kawasan hutan di China dikelola oleh SFA (State Forestry Administration) dibawah MEP (Ministry of Environmental Protection). SFA adalah badan pemerintah pusat di negara yang bertanggung jawab untuk mengelola semua kehutanan China dan inisiatif konservasi alam lainnya. Departemen administrasi meliputi Reboisasi, Manajemen Sumber Daya Hutan, Pelestarian Satwa Liar, Polisi Kehutanan, Kebijakan dan Perundang-undangan, Perencanaan Pembangunan dan Manajemen Pembiayaan, Sains dan Teknologi, serta Kerjasama Internasional.


Pemerintah China menyadari bahwa perlindungan alam dan warisan budayanya tergantung pada manajemen yang efektif. 15% dari lahannya dialokasikan sebagai kawasan lindung, diantaranya cagar alam dan taman nasional. Kawasan ini merupakan dasar untuk kemakmuran masa depan orang-orang di seluruh China, dan seterusnya.


Konfusianisme dan Taoisme mempunyai banyak penawaran untuk menciptakan filsafat hidup baru dalam harmoni dengan alam. Pengaruh konfusianisme dan taoisme terlihat pada pengelolaan alam di China. Yang menarik, pengaruh ini berjalan dalam ideologi Komunis. Kedepan apakah betul China akan dapat mempertahankan kawasan lindungnya dibawah tradisi Konfusius dan Taoisme serta ideologi Komunis? Jawabannya hanya waktu dan sejarah yang akan terus menguji dan membuktikan bagaimana arah sejarah masa depan China.

 

Beijing, 13 Mei 2013

Ttd

Arif Sulfiantono

PEH TN.G.Merapi/karyasiswa S2 di Beijing Forestry University-China

 

 

 

REFERENSI:

Confucius, 1967, Li Chi: Book of Rites, trans. James Legge, New Hyde Park: University Book.

Lao Tzu, 1995, Tao Te Ching: The Book of Meaning and Life, trans. H.G. Oswald, New York: Penguin Books.

Naisbitt. John & Doris, China’s Megatrends: 8 Pilar yang Membuat Dahsyat China, 2010, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

O’Neil. John, 1985, Five Bodies, Ithaca: Cornell University Press.

Subekti. Slamet, 2010, Sumbangan Konfusianisme dan Taoisme Bagi Pembentukan Humanisme dan Environtalisme dalam Kebudayaan China. Pusat Repository PDII – LIPI.

www.china.org.cn at March 20. 2009

www.chinadaily.com.cn at March 11, 2013


Dokumentasi:

Birdwatcher melakukan kegiatan rutin di Olympic Forest Park, Beijing, salah satu dari taman hutan  (forest park) di China.

 

Anak-anak China belajar pengamatan burung, salah satu pendidikan cinta alam

 

Eco-tourism keluarga dengan kemping di hutan kota Beijing

 

 

Jiufeng National Forest Park yang dikelola oleh State Forest Administration berkolaborasi dengan Beijing Forestry University

 

Bangunan Cagar budaya di dalam kawasan Jiufeng National Forest Park

 

Pohon berusia ratusan tahun yang masih tegak di dalam istana terlarang (forbidden kingdom)


Jumat, 03 November 2023

K3 WISATA

Wisata identik dengan kegiatan memberikan kesenangan dan kenikmatan, karena kegiatannya bertujuan memberikan beragam aktifitas secara santai dan menyenangkan. Namun, kegiatan yang seharusnya menyenangkan itu berubah menjadi tragedi yang mengerikan saat terjadi kecelakaan. Kasus atraksi wisata di destinasi wisata The Geong Limpawukus di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (25/10) yang menewaskan seorang wisatawan mengajarkan banyak hal tentang urgensi K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) wisata.

 
ada di rubrik ANALISIS koran Kedaulatan Rakyat hari Jumat, 3 November 2023, halaman 1 & 7

Dari hasil olah TKP ditemukan bahwa jenis kaca yang digunaka adalah tempered 1 lapis tebalnya 12 mm atau 1,2 cm (Detiknews, 20/10). Untuk sisi keamanan harusnya menggunakan kaca tempered laminated, sehingga ketika pecah tidak berhamburan. Polisi menambahkan bahwa tingkat keamanan kaca-pun seharusnya ada dua lapis, kalau lebih aman tiga lapis, sehingga tebalnya sekitar 3,6 cm, bukan hanya 1,2 cm.

Selain itu juga ditemukan terdapat perbedaan lebar dan jumlah pilar sebagai penahan jembatan. Hal ini menyebabkan tekanan yang dihasilkan tidak semuanya sama, sehingga penahan tidak optimal ini juga dapat menyebabkan salah satu kaca tersebut pecah (Detiknews, 20/10). Apalagi jembatan kaca setinggi 10 meter tersebut dinaiki 4 orang secara bersamaan.

Kecelakaan yang terjadi di destinasi wisata menimbulkan kerugian bersifat materi dan immaterial, baik bagi pengelola dan pengunjung yang menjadi korban. Pengelola mengalami dua kerugian sekaligus, yaitu mengganti kerugian kepada korban, dan kerugian bersifat immaterial, yaitu reputasi (Yudistira & Susanto, 2012). Kerugian immateril bersifat jangka panjang, yaitu kelangsungan destinasi untuk kembali memulihkan citra positif sehingga pengunjung melupakan kejadian tersebut.

Belajar dari kasus jembatan kaca tersebut, kunci sukses sebuah kegiatan pariwisata harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan pengunjung. Maka dari itu pengelolaan risiko wisata merupakan hal yang penting dalam menjamin keselamatan wisatawan. Keselamatan merupakan faktor utama yang menjadi pertimbangan wisatawan untuk memutuskan memilih destinasi wisata yang akan dikunjungi (Hermawan, 2017).

Wisatawan juga memperoleh perlindungan sesuai Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang menggantikan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 memberikan kepastian jaminan adanya keselamatan pengunjung wisata, misalnya saja pada pasal 20, wisatawan juga berhak memperoleh: a. informasi yang akurat mengenai daya tarik wisata; b. pelayanan kepariwisataan sesuai dengan standar; c. perlindungan hukum dan keamanan; d. pelayanan kesehatan; e. perlindungan hak pribadi; dan f. perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata yang berisiko tinggi.

Usaha pariwisata dengan kegiatan yang berisiko tinggi meliputi, antara lain wisata selam, arung jeram, panjat tebing, permainan jet coaster, dan mengunjungi objek wisata tertentu, seperti melihat satwa liar di alam bebas. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keselamatan wisatawan dapat dilakukan dengan mengevaluasi setiap risiko bahaya melalui manajemen bahaya yang meliputi penerimaan atas kejadian yang dapat ditoleransi, meminimalisir risiko, dan mengalihkan risiko (Achjar, 2020).

Alhamdulillah sarapan yang maknyuss 😋😀😁

Ancaman risiko keamanan wisatawan dapat dipengaruhi dan disebabkan oleh beragam faktor, seperti bencana alam, serangan satwa, konflik sosial, perilaku manusia dan lain-lain. Oleh karena itu, pengelola wisata dituntut melakukan estimasi risiko secara mendalam. Estimasi ini akan menghitung derajat risiko yang terbagai dalam tiga level yaitu tinggi, menengah dan rendah (Siahaan, 2007). Level ini dapat juga digunakan untuk menilai derajat risiko tempat wisata menggunakan pendekatan manajemen risiko.

Manajemen risiko menjadi alat untuk meminimalisir kerugian bagi semua pihak terkait, khususnya bagi pengelola. Salah satu cara penilaian risiko adalah melalui cara ‘walk trough survey’ di destinasi dengan melakukan penelusuran secara sistematik. Identifikasi yang dapat dilakukan oleh pengelola destinasi adalah dengan membuat daftar pertanyaan 5W1H. What, apa saja potensi hazard (bahaya) yang ada di destinasi tersebut?

Who, siapa saja yang mungkin akan terdampak oleh potensi bahaya tersebut? When, kapan dan seberapa lama risiko bahaya dapat terjadi? Where, dimana bahaya muncul dan dimana dampak akan terjadi? Why, mengapa dan apa sebabnya jika terjadi kecelakaan? How, bagaimana kemungkinan kecelakaan atas potensi bahaya dapat terjadi?

Saat ini memang pengelola destinasi sudah mengunakan pendekatan manajemen risiko dalam menyelenggarakan kegiatan wisata meski skala pengunaannya masih jauh dibandingkan dengan industri keuangan perbankan dan asuransi. Apalagi jumlah destinasi tiap tahun naik, seperti di DIY sudah ada 148 destinasi wisata (Dinas Pariwisata DIY, 2023). Semoga semua destinasi tersebut melakukan estimasi risiko untuk meminimalisir kecelakaan.


Yogyakarta,  1 November 2023

Ttd 

Arif Sulfiantono, M.Agr., M.S.I.

Pendamping Desa Mandiri Budaya DIY & Dosen Praktisi Prodi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi UGM