Sabtu, 09 Maret 2024

PARIWISATA BERKUALITAS

 

Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) menyatakan bahwa pariwisata global telah berada pada kondisi pemulihan hampir 90% seperti situasi sebelum pandemi Covid-19. Menurut data UNWTO (2023) 975 juta wisatawan melakukan perjalanan internasional antara Januari dan September 2023, meningkat 38% dibandingkan bulan yang sama tahun 2022. Hal ini juga dibuktikan dengan jumlah kunjungan wisatawan dari luar yang berlibur ke Yogyakarta selama Nataru sekitar 7 juta orang (KR, 31/1).

Pariwisata adalah sektor unggulan pembangunan yang telah direncanakan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah dengan tujuan menjadi salah satu kontributor utama dalam pertumbuhan ekonomi. Arah perencanaan pembangunan pariwisata sangat penting untuk diperhatikan, salah satunya mengarah pada konsep yang berkualitas (quality tourism).


Menurut Jeff Bezos -pendiri amazon.com- (2021) pada era digital, pariwisata harus berinovasi memenuhi kebutuhan dan harapan wisatawan yang terus berkembang. Pariwisata merupakan salah satu pilar pembangunan nasional sekaligus berfungsi sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi, berkelanjutan, dan inklusif. Bahkan pariwisata dapat untuk penanggulangan kemiskinan dan pengangguran.



Kolom ANALISIS koran KR (Kedaulatan Rakyat) tanggal 9 Maret 2024 halaman 1 & 7


Hal ini diaplikasikan dalam penerapan Desa Mandiri Budaya sejak 2021 melalui Dana Keistimewaan (Dais). Gubernur DIY -Sri Sultan HB X- menginginkan hasil Dais nanti seperti Desa Wisata Nglanggeran (Gunungkidul), Mangunan (Bantul), dan Breksi (Sleman) yang bertransformasi menjadi desa maju melalui pariwisata. Sayangnya mayoritas kalurahan penerima Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Desa Mandiri Budaya (DMB) melalui Dais masih latah dalam membangun wisata didesanya.


Latah disini yakni meniru destinasi wisata dengan membangun obyek wisata seperti spot selfie, tanpa membuat kajian dan perencanaan yang matang. Obyek wisata seperti ini dianggap oleh Desa dapat menarik banyak wisatawan, padahal hanya berusia pendek. Membanjir di awal karena faktor media sosial, kemudian menurun drastis, karena ada faktor kebosanan.


Hal ini dialami oleh Desa Wisata Nglanggeran yang pada awalnya fokus pada wisata Gunung Api Purba. Pada tahun 2014 pengunjung wisata Nglanggeran mencapai 325.303 orang (476 diantaranya mancanegara), omset Rp 1.422.915.000,-. Ternyata banyaknya pengunjung juga membawa dampak buruk, seperti sampah dan vandalism.


Kemudian Nglanggeran mengubah strategi pada quality tourism, yakni edukasi coklat, belajar budaya, pertanian, dll. Pada tahun 2019 pengunjung wisata Nglanggeran turun menjadi 103.107 orang, tapi omset mencapai Rp 3.273.593.400,-. Terbukti pariwisata berkualitas dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi desa.


Dalam quality tourism ada 3 unsur yang perlu diperhatikan. Pertama, durasi wisatawan tinggal di destinasi (Length of Stay/LoS), tidak hanya kuantitas wisatawan (quantity tourism) yang dihitung. Kedua, pengeluaran wisatawan selama berwisata atau jumlah belanja di destinasi. Ketiga adalah penciptaan lapangan kerja. Wisata di Nglanggeran mampu mencegah angka urbanisasi ke kota, generasi muda memilih mengembangkan atraksi wisata desa seperti edukasi wisata geopark, pertanian, budidaya coklat, hingga terapi Spa menggunakan bahan dari herbal lokal.


Salah satu strategi pariwisata menuju quality tourism sehingga mempunyai nilai lebih dan berbeda (tidak latah) adalah dengan identifikasi USP (Unique Selling Point). Dengan USP destinasi akan memiliki karakter atau DNA yang kuat, yang membedakan dengan desa lainnya. Menurut Capsey (2010) identifikasi USP merupakan langkah pertama yang perlu dilakukan sebuah wilayah untuk mengembangkan kepariwisataannya sehingga tepat sasaran dan berbeda dengan wilayah lainnya. 


Melalui keunikannya dan berbeda, destinasi pariwisata ini akan menjadi menonjol dan menarik dengan sendirinya untuk dikunjungi. Dengan keunikannya, maka paket wisatapun dikelola dengan ekuitas yang kuat tanpa melakukan perang harga antar wilayah destinasi wisata atau antar desa wisata. Selain itu juga dapat meningkatkan loyalitas pengunjung sehingga dapat meningkatkan LoS atau menambah durasi tinggal.


Desa wisata Nglanggeran terkenal karena keberhasilan pemberdayaan Masyarakat di sektor wisata dari atraksi wisata edukasi Geopark dan budidaya coklat. Wisatawan lebih mengenal Desa wisata Jatimulyo, Kulon Progo sebagai destinasi wisata pengamatan burung liar di alam (birding/avitourism). Desa wisata Wukirsari, Bantul dikenal wisatawan sebagai desa wisata batik, apalagi dibuktikan dengan meraih rekor MURI kategori perajin batik terbanyak di ajang ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) tahun 2023.

 

Yogyakarta, 1 Februari 2024

Ttd

 

Arif Sulfiantono, M.Agr., M.S.I.

Pendamping Desa Mandiri Budaya DIY & Dosen Praktisi Prodi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi UGM