Rabu, 28 September 2022

WORLD TOURISM DAY

 

Indonesia resmi menjadi tuan rumah World Tourism Day atau Hari Pariwisata Dunia pada 27 September 2022 ini. Keputusan itu disahkan pada Sidang Majelis Umum ke-24 Organisasi Pariwisata Dunia (United Nations of World Tourism/UNWTO) di Madrid, Spanyol pada tahun 2021.

Peringatan Hari Pariwisata Dunia akan dipusatkan di Bali, dengan mengusung tema ‘Rethinking Tourism’. Tema ini bertujuan untuk menginspirasi diskusi seputar memikirkan kembali pariwisata untuk pembangunan, termasuk dalam hal pendidikan dan pekerjaan, dan dampak pariwisata terhadap keberlangsungan planet bumi.  Terutama memikirkan kembali pariwisata setelah pandemi Covid-19.



Analisis koran Kedaulatan Rakyat hari Rabu, 28 September 2022


Percepatan pemulihan pariwisata dunia harus terus dilakukan, oleh karena itu kegiatan dipusatkan di Bali, destinasi wisata unggulan Indonesia yang memperoleh dampak besar pandemi Covid-19. Untuk pariwisata DIY sendiri mengalami dampak yang cukup besar bagi pengelola destinasi wisata.

Dalam Statistik Kepariwisataan DIY, jumlah destinasi atau obyek wisata di DIY pada tahun 2021 yang meliputi obyek wisata alam, obyek wisata budaya, obyek wisata buatan, dan desa/kampung wisata sebanyak 274 obyek wisata (Dispar DIY, 2021). Masih ada beberapa obyek wisata yang sementara tidak beroperasi karena terdampak Covid-19, sehingga berdampak pada penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke DIY.

Keseluruhan kunjungan wisatawan mancanegara ke DIY pada tahun 2019 sebanyak 433.027 orang, tahun 2020 sebanyak 69.968 orang, dan tahun 2021  sebanyak 14.740 orang. Ada penurunan minus 83% dari tahun 2019 ke 2020, dan minus 78,93& dari tahun 2020 ke 2021 (Statistik Pariwisata DIY 2021). Untuk wisatawan nusantara pada tahun 2019 sebanyak 6.116.354 orang, tahun 2020 sebanyak 1.778.580 orang, dan tahun 2021 sebanyak 4.279.985 orang.

Ada pertumbuhan positif dari tahun 2020 ke 2021 sebesar 140,64%; dari sebelumnya mengalami penurunan dari tahun 2019 ke 2020 sebesar minus 70,92% (Statistik Pariwisata DIY 2021). Angka ini menunjukkan bahwa pariwisata DIY masih didominasi oleh wisatawan lokal atau nusantara. Hasil positifnya adalah pariwisata di DIY lebih cepat pulih.

Pariwisata adalah pilar pembangunan yang menyerap banyak lapangan kerja, inklusif, dan berkelanjutan. Hasil penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) pada tahun 2018, sektor pariwisata mempunyai dampak pada pengganda output, nilai tambah, pendapatan, dan tenaga kerja sebesar rata-rata di atas 2. Angka rata-rata ini menunjukkan peningkatan pendapatan di sektor pariwisata sebesar satu satuan (dalam juta rupiah) akan meningkatkan pendapatan di seluruh sektor perekonomian nasional sebesar 2.

Begitu juga untuk pengganda output, nilai tambah, dan tenaga kerja pada sektor pariwisata akan meningkatkan output, nilai tambah, dan peningkatan penambahan tenaga kerja secara nasional. Industri pariwisata merupakan salah satu industri padat karya dengan lingkup bisnis, restoran, penginapan, pelayanan perjalanan, transportasi, pengembangan daerah tujuan wisata, fasilitas rekreasi dan atraksi wisata.

Informasi yang menarik di DIY ternyata kunjungan pariwisata juga didukung oleh adanya event atau festival seni dan budaya. Data dari Jogja Festivals Forum sebagai kumpulan penyelenggaran event di DIY data pengunjung festival di DIY pada tahun 2018/2019 sebanyak 449.673 orang. Event di DIY ini mempunyai dampak ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.

Untuk dampak ekonomi adalah meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan membuka peluang bisnis baru. Dampak sosial budaya berupa menumbuhkan kebanggaan masyarakat, melahirkan solidaritas dan kebersamaan, serta mengedukasi komunitas. Sedangkan dampak lingkungan adalah mengembangankan potensi daerah, mempromosikan destinasi wisata dan membangun citra daerah.


Hotel Grand Mercure, 26 September 2022 pukul 21.05

Jumat, 01 April 2022

MASJID DAN POTENSI WISATA RELIGI

Selama tiga hari tanggal 25 hingga 27 Maret 2022 sebanyak 129 perwakilan takmir masjid dari wilayah Indonesia hadir di masjid Jogokariyan untuk mengikuti workshop Masjid Sebagai Destinasi Wisata Religi. Kegiatan yang digagas oleh Takmir Masjid Jogokariyan ini mengambil fokus masjid sebagai wisata yang mampu menggerakkan pemberdayaan ekonomi warga, bukan wisata religi ziarah kubur.

Selain memiliki jumlah penduduk muslim terbesar, Indonesia juga memiliki destinasi yang berpotensi pada wisata halal. Menurut Menparekraf Sandiaga Uno, Indonesia Selain masuk ke dalam lima Negara dengan pengeluaran wisata halal tahun 2019 berdasarkan data dari State of Global Islamic Economic Report 2020/2021, yakni sebesar $11,2 Milyar US atau sekitar Rp 160,720 Triliun (Kemenparekraf, 2021). 

Tayang di Opini Koran 'KEDAULATAN RAKYAT' hari Jumat, 1 April 2022

Data Kementerian Agama ada 280.320 masjid di Indonesia sampai bulan Maret 2022. Ini merupakan sebuah potensi yang besar untuk pemberdayaan ekonomi jika mengambil angka 10% dari jumlah masjid tersebut makmur setingkat masjid Jogokariyan. Untuk wilayah Provinsi DIY sendiri tahun 2021 ada 8.107 masjid, dan 6.792 mushola/langgar.

Wisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih dengan tujuan mendapatkan kenikmatan dan tujuan untuk mengetahu sesuatu; dapat juga yang berhubungan dengan kegiatan olahraga, kesehatan, keagamaan, dan keperluan lainnya. Wisata religi merupakan sebuah perjalanan untuk memperoleh pengalaman dan pelajaran (edukasi). 

Sedangkan wisata halal adalah serangkaian layanan fasilitas, atraksi, dan aksesibilitas yang dimaksudkan untuk memberikan dan memenuhi pengalaman, kebutuhan, dan keinginan wisatawan muslim (Sutono, 2019). Motif wisata religi adalah dapat sekedar untuk mengisi waktu luang, untuk bersenang-senang, bersantai hingga studi dan kegiatan agama. Potensi wisata sendiri adalah segala sesuatu yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata (Pendit, 1999). 

Potensi wisata tersebut adalah (1). Potensi budaya adalah potensi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat baik itu adat istiadat, kesenian, dan budaya. (2). Potensi alamiah adalah potensi yang ada di masyarakat berupa potensi fisik dan geografi seperti alam. (3). Potensi manusia atau wisata buatan, adalah manusia juga memiliki potensi yang dapat digunakan sebagai daya tarik wisata, seperti melalui pementasan tarian/kesenian daerah hingga produk manusia (buatan). 

Menurut informasi Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Ustad HM. Jazir ASP, untuk wisatawan yang berkunjung di masjid Jogokariyan, Yogyakarta sendiri tiap bulan dapat mencapai 50 hingga 60 bus besar. Mayoritas pengunjung adalah pengurus atau jamaah masjid, organisasi keagamaan atau sekolah yang ingin belajar manajemen kemasjidan. Aktivitas masjid Jogokariyan termasuk dari potensi wisata buatan.

Pariwisata termasuk bisnis atau industri kreatif yang mempunyai keluaran/output ekonomi atau uang. Masjid Jogokariyan sudah melakukannya dengan menyelenggarakan berbagai atraksi event atau kegiatan yang menarik wisatawan. Salah satu contohnya adalah Pasar Rakyat yang digelar tiap hari Sabtu dan Ahad dari Subuh hingga siang hari.

Pasar Rakyat Jogokariyan yang dimulai pada tanggal 8 Agustus 2021 bertujuan untuk memulihkan kondisi perekonomian warga Jogokaryan yang terpuruk karena terdampak pandemi Covid. Menurut informasi Ustad Jazir omzet bulanan Pasar Rakyat sekarang mencapai Rp 1 Milyar dan mampu memperbaiki ekonomi warga. Bahkan menjadi salah satu destinasi favorit dari pengunjung wisata religi Masjid Jogokariyan. 

Potensi wisata religi lainnya yang jarang dilirik adalah eco-masjid, yakni menjadikan masjid sebagai pusat pembelajaran cinta lingkungan. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Masjid Al Muharram, Kampung Brajan, Kasihan Bantul sejak tahun 2013 dengan nama Gerakan Sedekah Sampah. Melalui gerakan berwawasan lingkungan ini hasilnya dapat dimanfaatkan untuk santunan pendidikan, kesehatan dan sembako untuk warga.

Bahkan gerakan sedekah sampah Masjid Al Muharram inilah yang menginspirasi lahirnya program eco-masjid yang dicanangkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada November 2017. Masjid Al Muharram-pun menjadi salah satu destinasi wisata religi edukasi lingkungan. 

Masjid yang memiliki tanah wakaf pertanian atau perkebunan pun dapat menjadi destinasi wisata religi berbasis alam dan edukasi. Memasuki ekonomi kreatif kini wisata religi masjid tidak terbatas ziarah kubur atau masjid bernilai sejarah, tapi telah bertransformasi menjadi destinasi wisata berbasis edukasi dan pemberdayaan ekonomi.

Yogyakarta, 27 Maret 2022
Ttd

Arif Sulfiantono
Pendamping Desa Wisata & Pengurus DMI DIY

Jumat, 04 Maret 2022

LABUHAN MERAPI

 

3 kali sejak tahun 2020 Upacara Labuhan Merapi dilaksanakan saat pandemi Covid-19. Labuhan Merapi dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb (bulan Jawa). Tahun ini Labuhan Merapi dilaksanakan pada tanggal 4-5 Maret 2022, di Dusun Kinahrejo, Kalurahan Umbulharjo, Kemantren Cangkringan, Sleman.

Upacara adat yang rencananya dilaksanakan dengan sederhana dan terbatas karena kondisi pandemi ini merupakan momen terbaik untuk evaluasi atas hasil kerusakan alam akibat ulah manusia. Covid-19 adalah salah satu dampak dari rekayasa teknologi yang menyebabkan ke-tidak-seimbang-an alam, sedangkan Labuhan Merapi bentuk dari keharmonisan manusia hidup bersama alam.

Upacara adat ini juga merupakan upaya perlindungan dan pengelolaan alam yang integratif, berkelanjutan, dan konsisten melalui budaya lokal oleh masyarakat dan pemerintah. Labuhan Merapi adalah manifestasi ungkapan syukur atas Jumenengan (Penobatan) Sri Sultan Hamengku Buwono X. Prinsipnya ritual adat ini merupakan ekspresi rasa syukur kepada Tuhan dari Masyarakat Lereng Merapi.

Opini Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 4 Maret 2022 hlm 11

Hutan Srimanganti yang digunakan untuk upacara Labuhan di Kinahrejo merupakan hutan alam yang masih terjaga kelestariannya, apalagi sejak tahun 2004 kawasan hutan ini masuk kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Area ini masuk dalam zona Religi TNGM. Jalur labuhan Merapi juga telah berhasil direstorasi oleh warga Merapi bersama Balai TNGM dengan tumbuhan asli Merapi.

Nilai budaya yang dipegang erat masyarakat Merapi tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya Jawa dari Kraton Mataram dan Yogyakarta. Masyarakat masih memegang kepercayaan bahwa antara Gunung Merapi, Kraton dan Pantai Selatan terjalin sumbu filosofi. Mereka meyakini gunung, sungai, dan pohon bukanlah ‘benda mati’, sehingga manusia wajib menjaga kelestariannya, sejalan dengan prinsip “Hamemayu Hayuning Bawono, Ambrasta dur Hangkara dalam pelestarian alam yang diaplikasikan dalam beberapa tradisi budaya. 

Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara artinya manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak (Kusumosanyoto, 2009). Hamemayu hayuning wono (hutan). Wono atau hutan merupakan satu inti pokok dalam “Catchment Area” atau Daerah Aliran Sungai (DAS) (Nugroho dan Elviandri, 2018). Jika Wono rusak maka ekosistem akan ikut rusak, misal tata air permukaan/sungai, frekuensi dan durasi hujan, kelangsungan hidup ekologi dll. Menjaga kecantikan dan kelestarian DAS pada intinya adalah menjaga kelestarian hutan beserta ekosistem yang ada didalamnya.

Hamemayu hayuning manungsa (manusia), seperti diketahui bersama bahwa manusia merupakan inti roh dari alam lingkungan sekitarnya (Nugroho dan Elviandri, 2018). Jika manusia berperilaku-berbudaya buruk, maka alam akan rusak. Jika manusia hanya menggunakan nafsu “angkara murka”-nya maka yang paling pertama menderita adalah lingkungan. Kalau manusia lupa bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungan dan merupakan pesuruh “Gusti Allah” yang harus menjadi aktor pemelihara dan mengelola alam sekitar ini, maka alam inipun akan rusak oleh ulah manusia itu sendiri (Nugroho dan Elviandri, 2018).

Filosofi ini diterapkan masyarakat Gunung Merapi yang juga memiliki sikap kosmologis yang kuat, yakni adanya ikatan yang besar antara manusia dan Gunung Merapi. Manusia selalu tunduk dan dikuasai oleh Gunung Merapi, hal ini bisa dilihat betapa masyarakat di lereng Gunung Merapi tidak berani menebang pohon seenaknya, berburu binatang di hutan, memindahkan batu-batu besar di tempat-tempat tertentu, mendirikan rumah menghadap ke arah Gunung Merapi, apalagi punya keberanian untuk membakar hutan (Minsarwati, 2002).

Menurut tinjauan Suwito (2005 dalam Gunawan, 2015), upacara adat masyarakat Yogyakarta mempunyai 3 (tiga) fungsi: (1) Fungsi Spiritual, upacara adat memberikan petunjuk atau gambaran hubungan manusia dengan Tuhan (Hablun minallah). Pada fungsi spiritual ini kepentingan rohani manusia akan terpenuhi; (2) Fungsi Sosial, upacara adat melibatkan individu-individu warga masyarakat (Hablun minannas) yang mempunyai kepentingan sama, yang dilandasi oleh kepercayaan dan keyakinan yang sama pula, sehingga dapat menciptakan kerukunan sosial dan membawa dampak terwujudnya ketenangan, ketentraman dan kesejahteraan hidup; (3) Fungsi Pelestarian Lingkungan Fisik/Alam. Dibalik konsepsi keyakinan yang tertuang dalam mitos-mitos dan upacara adat yang dianggap sakral dan keramat tersebut terkandung kearifan lokal yang dapat berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap pengelolaan lingkungan yang cukup efektif, sehingga masyarakat sendiri yang akan memperoleh manfaat ekologis yang cukup besar.

Yogyakarta, 1 Maret 2022
ttd
Arif Sulfiantono, M.Agr., M.S.I.
Pendamping Desa Mandiri Budaya DIY


Jumat, 04 Februari 2022

WISATA SEHAT

Hampir dua tahun pandemi covid 19 melanda Indonesia. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid 19 penduduk Indonesia yang terinfeksi covid 19 sampai awal tahun ini (2/2) sebanyak 4,35 juta jiwa (www.covid19.go.id). Dari jumlah tersebut, 4,14 juta dinyatakan sembuh, 143 ribu diantaranya meninggal dunia.

Untuk Provinsi DIY data dari bulletin-germas.cov19 sampai tanggal 2 Februari 2022 ini ada 157.704 orang terkonfirmasi Covid 19; 151.805 orang sembuh; dan 5.276 orang meninggal dunia. Pandemi global ini tidak hanya menyerang sektor kesehatan masyarakat namun juga meluluhlantakkan sektor ekonomi dan sektor pariwisata.

Dampak pandemi covid 19 pada sektor pariwisata di Provinsi DIY tidak separah di Bali. Jumlah wisatawan di DIY di tahun 2020 berdasarkan statistik Dinas Pariwisata DIY sebanyak 10.830.143 orang, dengan rincian 64.757 wisatawan mancanegara dan 10.765.386 wisatawan nusantara. 191 obyek wisata yang dikunjungi berupa obyek wisata alam, obyek wisata budaya, obyek wisata buatan, dan desa/kampung wisata.

Tahun 2021 dan 2022 ini diperkirakan jumlah kunjungan wisatawan di DIY mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan kesadaran warga akan vaksin untuk mencegah penyebaran covid 19.  Data bulletin-germas.cov19 (2022) menunjukkan vaksin di DIY cukup tinggi, 103,2% telah vaksin dosis 1, 94,86% vaksin dosis 2, dan 7,07% dosis 3 (booster).

Kesadaran pengelola obyek wisata untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) juga tinggi. Pemda DIY juga memberikan bantuan sarpras penunjang prokes serta menerapkan aturan Pranatan Anyar Plesiran Jogja di obyek wisata menuju wisata sehat. Bahkan beberapa kali Dinas Pariwisata DIY menyelenggarakan vaksin massal di obyek wisata yang sudah menerapkan prokes.


Rubrik Analisis koran Kedaulatan Rakyat tanggal 4 Februari 2022 halaman 1


Wisatawan juga semakin sadar untuk menerapkan wisata sehat dengan lebih memilih mengunjungi obyek wisata alam dan desa wisata yang jauh dari keramaian. Apalagi saat ini desa wisata menjadi tenar setelah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyelenggarakan lomba desa wisata tingkat nasional tahun 2021, dan 6 desa wisata di DIY meraih penghargaan bergengsi.

Dengan menikmati pemandangan alam yang masih asri di obyek wisata alam maupun desa wisata, pengunjung dapat menyegarkan pikiran dan menghilangkan stres sehingga fisik-pun turut sehat. Beberapa obyek wisata juga menyediakan layanan kesehatan bagi pengunjung seperti Spa yang ada di desa wisata Nglanggeran. 

Wisatawan dapat mengambil paket menginap di glamping (glamour camping) yang dekat sungai di Nglanggeran sekaligus terapi Spa oleh warga asli Kalurahan Patuk, Gunung Kidul ini. Aktivitas wisata lain yang menyehatkan adalah seni budaya sambil menikmati suasana alam yang masih asri. Contohnya adalah aktivitas membuat wayang suket di desa wisata Pentingsari, Sleman dan kreasi janur di desa wisata Tinalah, Kulon Progo. 

Atau aktivitas fisik seperti trekking susur sungai atau pegunungan, misal susur sungai Oya di desa wisata Kebonagung Imogiri Bantul sejauh 5 Km hingga 10 Km. Jika wisatawan ingin sambil menikmati kicauan burung liar di pegunungan dapat menikmatinya di wisata birdwatching desa wisata Jatimulyo, Kulon Progo. Ada 106 jenis burung yang hidup bebas dan aman di wilayah yang dijuluki desa ramah burung ini.

Untuk menunjang wisata sehat sehingga wisatawan aman dan nyaman dalam berwisata, Dinas Pariwisata DIY juga telah membuat aplikasi Visiting Jogja, yakni aplikasi untuk booking tiket.  Melalui aplikasi ini diharapkan tidak ada kerumunan pengunjung di depan loket atau pintu masuk. 

Bila kapasitas sudah maksimal pengelola menutup. Wisatawan pun dapat mengalihkan ke obyek wisata lain saat obyek wisata yang dituju jumlah pengunjungnya mencapai batas maksimal. Informasi obyek wisata DIY juga dapat dilihat di aplikasi Visiting Jogja.

Untuk berwisata sehat, baik pengunjung/wisatawan dan pengelola wisata harus benar-benar sadar diri untuk disiplin prokes, karena saat ini Indonesia memasuki gelombang 3 covid 19, yakni covid varian omicron. Sarpras penunjang prokes seperti pengukur suhu tubuh dan wastafel cuci tangan harus senantiasa dicek dan dipastikan berfungsi baik. Disiplin prokes dan vaksin adalah kunci dalam wisata sehat kala pandemi. Dan wisata sehat dapat menjadi immune booster jiwa dan raga.


Yogyakarta, 3 Februari 2022

Ttd


Arif Sulfiantono,M.Agr.,M.S.I.

Pegiat Forkom Desa Wisata DIY & pendamping desa mandiri budaya