Selasa, 10 Maret 2015

Adopsi Anggrek di Taman Nasional Gunung Merapi


Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) membawa konsekuensi perubahan ekosistem yang cukup besar. Perubahan ekosistem ini mencakup komponen abiotik, biotik dan sosial budaya. Perubahan ekosistem yang disebabkan oleh hilangnya atau rusaknya vegetasi perlu direstorasi dengan melakukan penanaman jenis-jenis vegetasi asli yang pernah ada dalam ekosistem tersebut.

Sebenarnya secara alami, ekosistem yang terganggu akan dapat memulihkan dirinya sendiri melalui proses suksesi alam. Namun, mengingat kerusakan ekosistem hutan di TNGM cukup besar, maka proses suksesinya akan memerlukan waktu yang sangat lama. Sementara itu, pemulihan ekosistem perlu segera dilakukan untuk mengembalikan fungsi-fungsi hutan yang hilang seperti fungsi habitat satwa, fungsi lindung hidrologi dan fungsi sosial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

Untuk itu diperlukan campur tangan manusia dalam rangka membantu mempercepat proses recovery (pemulihan) ekosistem yang terdegradasi. Campur tangan manusia dalam rangka membantu pemulihan fungsi-fungsi hutan yang terdegradasi berupa upaya restorasi ekosistem. Salah satu bentuk campur tangan adalah melalui program Adopsi Anggrek, variasi dari program Adopsi Pohon yang lebih dahulu dikenal masyarakat.

Opini koran Kedaulatan Rakyat tanggal 10 Maret 2015

Adopsi Pohon di Kawasan Konservasi
Program adopsi pohon awalnya dilakukan oleh Taman Tasional Gunung Gede Pangrango pada tahun 2008 (Hidayat, 2013). Program ini merupakan penanaman pohon di kawasan konservasi dengan pemeliharaan selama tiga tahun, termasuk didalamnya terdapat kegiatan pemberdayaan dan bantuan modal usaha terhadap masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tujuan program adalah untuk mendorong masyarakat luas agar lebih peduli terhadap lingkungan dan pemulihan kawasan hutan yang rusak.

Adopter dalam program adopsi pohon ini berasal dari perorangan maupun kelompok atau perusahaan yang peduli pada lingkungan hidup. Penanaman pohon oleh Adopter disertai perawatan dan pemeliharaan secara teratur dengan maksud agar pohon tersebut dapat tumbuh dengan baik untuk jangka panjang. Perawatan dalam program ini mencangkup penyulaman tanaman yang mati, pemeliharaan tanaman dengan pemupukan dan pencegahan terhadap gangguan hama, penyakit dan gulma. Pelaksana pemelihara pohon adopsi adalah masyarakat sekitar kawasan konservasi dengan biaya dari Adopter.

Adopsi Anggrek Merapi
Sebelum erupsi tahun 2010, lereng Selatan Gunung Merapi dari bukit Turgo sampai Kinahrejo menyimpan 67 jenis Anggrek yang terdiri dari 45 genus (Sulistyono, 2009). Pada tahun 2011 dilakukan inventarisasi Anggrek lagi di kawasan hutan bukit Turgo yang terdampak erupsi ringan dengan kerusakan hutan relatif kecil. Pada kegiatan inventarisasi tersebut menemukan 51 jenis Anggrek dari 29 genus (Sulistyono, 2011). 

Populasi terbesar didominasi jenis Dendrobium sagitattum, sedangkan jenis Dendrobium mutabile paling luas distribusinya. Jenis Peristylus monticola, Dendrobium crumenatum dan Eria hyacinthoides adalah jenis dengan jumlah paling sedikit dan terbatas. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan jenis Anggrek pandan ‘Vanda tricolor Lindl’ mengalami hambatan perkembangan karena pengaruh abu erupsi Merapi. Padahal Vanda tricolor adalah jenis Anggrek langka, dilindungi serta merupakan flagship species dari TNGM.

Program Adopsi Anggrek sendiri yang digagas TNGM adalah program penyelamatan Anggrek Merapi yang terancam punah. Program ini dilakukan dengan menghimpun donasi dari Adopter yang dititipkan pada Perkumpulan Pelestari Anggrek Merapi dengan jangka waktu selama 2 tahun. Anggota perkumpulan ini adalah masyarakat dusun Turgo yang berpengalaman dalam penyelamatan Anggek Merapi.

Selain untuk menyelamatkan Anggrek Merapi yang hampir punah, Adopsi Anggrek juga bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan Merapi. Melalui Adopsi Anggrek berarti juga menjaga pohon yang menjadi inang anggrek untuk terus hidup lestari. Manfaat lainnya adalah ikut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan Merapi.

Adopsi Anggrek yang di-launching pada hari Sabtu, 21 Februari 2015 di dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman juga bertujuan untuk melestarikan kearifan lokal masyarakat Merapi. Adopter akan diajak keliling menyaksikan kearifan lokal masyarakat Turgo yang telah menjaga Anggrek Merapi dari kepunahannya. Adopter juga akan memperoleh suguhan minuman teh asli Merapi yang diracik secara khas oleh masyarakat Turgo. 


Kemalang-Klaten, 18 Februari 2015


 Poster Adopsi Anggrek TNGM