Sabtu, 15 Oktober 2016

URGENSI SYURO

Aktivis dakwah pasti akrab dengan istilah syuro, rapat, briefing, meeting, dll. Syuro yang sering kita sebut dengan “musyawarah” berasal dari kata sya-wa-ra dengan makna dasar “mengeluarkan madu dari sarang lebah”. Secara lebih mudah, arti dari syuro adalah: memilih mana baik seperti madu, dan meninggalkan yang jelek.
Syuro adalah proses yang dilakukan oleh sekumpulan individu dalam suatu kelompok/organisasi untuk menelaah kemashlahatan dan kemudharatan dari suatu hal, yang nantinya hasil mufakat tersebut  akan dijadikan sikap kolektif kelompok/organisasi.

Syuro berkaitan erat dengan organisasi.  Untuk bisa menjalankan visi  dan misi, para aktivisnya haruslah bergerak bersama. Menyatukan tekad, merumuskan tujuan dan menyusun langkah-langkah  yang akan diambil.
Hadirnya personil syuro menjadi sangat penting dalam pengambilan keputusan bahkan keberlangsungan organisasi. Bagi organisasi dakwah, syuro adalah suatu alat untuk membentuk ta’liful qulub (ikatan hati) para pengurus/aktivisnya.

Sayangnya fenomena sekarang banyak aktivis enggan untuk hadir dalam syuro. Berbagai macam alasan dihadirkan, seperti “ada rapat RT”, “hujan”, “ngantar anak ke toko”, “keluar kota”, bahkan sampai alasan yang paling menyebalkan: “lupa” atau “ketiduran”. Pernah ada murid ngaji yang mengemukakan dua alasan terakhir tersebut akhirnya dikenai sanksi iqab/hukuman, terutama istighfar sebanyak-banyaknya.

Tentu suatu saat ada halangan tidak hadir syuro, tapi lebih bagus jika alasannya diterima secara syar’i. Lebih elegan lagi jika tidak hadirnya syuro diimbangi dengan komitmen untuk menggantinya dengan yang sama ukurannya atau bahkan lebih baik, seperti:
“Saya akan bantu pendanaan kegiatan ini’
“Undangan atau publikasi wilayan kecamatan Kraton biar saya saja yang menyampaikannya.”
“Beri saya 5 proposal untuk saya carikan sponsor kegiatan”

Terus terang saya rindu dengan suasana keberlangsungan organiasi dakwah zaman dulu, seperti tahun-tahun awal FSRMY. Tiap biro ada syuro rutin per pekan. Biro PPRM di masjid Al Huda Harnas, Biro Inkov di masjid Baiturahman, biro Dakwah di masjid Jogokaryan. Tiap 2 pekan sekali syuro sambil kajian FSRMY. Bahkan jika ada kegiatan akbar seperti Ramadhan Malioboro hampir tiap hari syuro. Semua dilakukan dengan kesadaran dan penuh semangat.

kenapa syuro sambil makan lebih menarik??


Sekarang jarang saya temukan di organisasi dakwah. Malah saya temukan 2 bulan lalu saat rapat koordinasi kegiatan Merapi Birdwatching Competition 2016 bersama teman-teman  Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ). Hampir tiap malam koordinasi di taman kuliner condong catur. Semua semangat untuk hadir, bahkan ada yang rumahnya Brosot, Kulon Progo juga hadir.

Ya, menghadiri syuro adalah salah satu bentuk komitmen dan konsistensi dari para kader dakwah untuk keberlangsungan.

Media sosial memang sarana bagus untuk syuro, tapi kekuatannya dan semangat dakwahnya beda jauh dengan bertemu dan bersyuro langsung. Usul kegiatan dakwah di media sosial sangat mudah, tapi menjalaninya melalui syuro dan aksi riilnya membutuhkan komitmen kuat. Mungkin bisa salah satu menjadi ukuran keimanan.


Jika ada meme di medsos yang berbunyi, “jangan bicara Islam tinggi-tinggi, kalau subuhmu belum di masjid”; maka saya akan buat meme, “Jangan bicara Islam tinggi-tinggi, kalau jarang hadir syuro.”