Rabu, 07 September 2016

PARA SHOHIBUL QURBAN

Pagi hari setelah Subuh, seorang teman cerita kalau tahun 2016 ini pesantrennya baru dapat 5 sapi untuk Idul Qurban. Sepertiganya tahun lalu, 2015. Padahal daerah binaan dakwahnya semakin meluas, Idul Qurban tinggal 4 hari lagi. Dalam perjalanan menuju kantor di lereng Merapi saya teringat kisah tentang Shohibul Qurban dari teman Ustadz.

Dia pernah mengunjungi sebuah dusun di daerah Dieng, Jawa Tengah. Mayoritas warga dusun adalah petani sayur. Yang luar biasa adalah peran serta warga dusun tersebut menjadi Shohibul Qurban. Ada sekitar 90% warga menjadi Shohibul Qurban, padahal tingkat ekonominya kelas menengah ke bawah.

Qurban untuk Merapi di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu tahun 2015

Bahkan yang kelas menengah mempunyai cara jitu untuk tetap menjadi Shohibul Qurban. Yakni dengan menabung melalui hewan qurban. Caranya tahun ini membeli 2 anak kambing, kemudian tahun berikutnya 1 ekor untuk Idul Qurban, 1 ekor dijual untuk dibelikan 2 anak kambing. Ini berlangsung terus menerus.

Tak heran dusun tersebut tanahnya menjadi subur, hasil panen sayur melimpah. Betapa Allah memenuhi janjinya.

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi …” (QS Al-A’raaf: 96).

Seyogianya seseorang yang mempunyai penghasilan karena bekerja (maisyah) menjadi shohibul qurban. Jika suami-istri dua-duanya bekerja jatah qurbannya menjadi dua. Sedekah qurban adalah bentuk perwujudan dari keimanan kita yang hanya semata-mata untuk-Nya, bukan menuhankan harta.

“dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)

Perlu diingat ibadah, sedekah dlsb adalah untuk kita sendiri, bukan untuk Allah. Hakikatnya Allah tidak membutuhkan ibadah atau sedekah manusia. Ibadah itu diperintahkan sebagai kewajiban adalah dalam rangka untuk kemaslahatan manusia itu sendiri secara keseluruhan meliputi kehidupan dunia dan akhirat.

Ibadah manusia tidak sedikit pun akan menambah keagungan Allah. Demikian pula sebaliknya, pembangkangan manusia juga tidak akan mengurangi sedikit pun kemuliaan Allah Ta’ala. Allahu’alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar