Senin, 06 Februari 2017

Desa Wisata Jatimulyo: Jelajah Air Terjun Pegunungan

Rasanya seperti di dalam surga begitu turun ke dalam ‘kedung’ atau kolam yang airnya berasal dari air terjun alami yang muncul dari celah bebatuan karst. Apalagi sekitar kolam adalah hutan dengan berbagai macam pepohonan, menjadikan suasana sejuk. Perpaduan hijaunya pepohonan dan air kolam, serta gemericik suara air terjun menciptakan kesyahduan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Surga kecil ini adalah obyek wisata air terjun ‘Kembang Soka’ yang sering juga disebut dengan air terjun ‘Mbang Soka’. Air terjun ini terletak di Dusun Gunung Kelir, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Menurut cerita masyarakat setempat yang disampaikan oleh pemandu kami -Mas Kelik- yang juga Ketua pengelola obyek wisata Kembang Soka, nama air terjun ini berasal dari salah satu mata air yang diatasnya tumbuh bunga Soka.

Kedung/kolam Kembang Soka dari air terjun yang mengalir

“Ada 6 Tuk (sumber air) di area Kembang Soka ini mas; Tuk Modal, Tuk Jaran, Tuk Miri, Tuk Bangki, Tuk Sepanggal dan Tuk Kembang Soka,” jelas Mas Kelik. Beberapa sumber air ini mengalir membentuk air terjun dengan ketinggian 3 sampai lebih dari 10 meter. Untuk area Kembang Soka sendiri sudah dirintis sejak tahun 2014 menjadi obyek tujuan wisata alam.

Area seluar sekitar 5 hektar ini ditata secara artistik dengan bahan utama berupa bambu petung dan kayu yang diperoleh dari hutan masyarakat setempat. Memang profesi masyarakat sebagian besar adalah petani hutan. Kopi, Kakao, Talas adalah produk dari hutan milik masyarakat.

Pengelola Kembang Soka juga menyediakan pelampung air bagi pengunjung yang ingin bermain di kolam sedalam 1 hingga 2,5 meter ini. Airnya cukup dingin, khas kawasan pegunungan dengan ketinggian 500 – 600 meter di atas permukaan laut (dpl). Begitu selesai bermain air, baik di kolam maupun air terjun pengunjung dapat menyantap makanan yang disajikan di kedai sekitar kolam.

Kami sendiri dijamu oleh Mas Kelik dengan kopi produk asli dari masyarakat Jatimulyo, yakni Kopi Sulingan. Kopi jenis robusta ini termasuk ramah lingkungan, karena biji kopi diperoleh dari tanaman kopi yang tumbuh liar di bawah teduhan hutan masyarakat (shaded grown). Kata “sulingan” sendiri berasal dari nama lokal burung Sikatan Cacing (Cyornis banyumas), sejenis burung pemakan serangga yang cantik dan bersuara merdu, yang sulit ditemukan di daerah lain.
Desa wisata Jatimulyo merupakan daerah yang kaya akan keanekaragaman burung. Terdapat sekitar 81 jenis burung di kawasan ini (24 persen total jenis burung di DIY), keberadaannya dilindungi oleh Peraturan Desa (Perdes) yang melarang kegiatan perburuan. Jadi disela-sela bunyi gemericik air juga terdengar kicau burung. Bahkan saat siang hari kami mendengan suara burung Elang Ular Bido (Spilornis cheela) sedang terbang soaring mencari makan.

di rubrik PARIWISATA koran Kedaulatan Rakyat tanggal 5 Februari 2017
Selain air terjun Kembang Soka, Desa Jatimulyo juga mempunyai obyek wisata alam Goa Kiskendo, Curug Setawing, Grojogan Sewu, Kedung Pedut, dan Sungai Mudal. Goa Kiskendo merupakan obyek wisata alam yang sudah lama dikelola oleh Pemerintah Daerah. Lainnya dikelola oleh kelompok masyarakat dibawah koordinasi Desa Jatimulyo.
Desa Jatimulyo sendiri ditunjuk menjadi desa wisata oleh pemerintah sejak Juli 2008. Sejak saat itu, agar pengelolaan dapat berjalan lancar, maka dibentuk kelompok pengelola desa wisata yang terdiri dari pengurus inti, masyarakat penyedia homestay, dan sumber daya pemandu. Pada tahun 2015 obyek wisata alam Desa Jatimulyo diresmikan oleh Bupati Kulonprogo, Bapak dr. Hasto Wardoyo. Bahkan pada tahun tersebut memperoleh juara III kategori Desa Wisata terbaik se-Provinsi DIY. 
Untuk menuju Desa wisata Jatimulyo saat ini terbilang lebih mudah, meskipun membutuhkan usaha. Jarak dari kota Jogja sekitar 30 Km. Akses jalan yang mudah dan baik melalui Jalan Godean lurus ke Barat arah Kulonprogo, melewati Sungai Progo, dan naik ke kawasan Pegunungan Menoreh. Cukup banyak papan penunjuk arah menuju obyek wisata alam Jatimulyo.
Wisatawan yang berniat ke obyek wisata ini, sebaiknya mempersiapkan fisik yang cukup prima, karena diperlukan perjalanan kaki yang cukup jauh dan naik turun. Kendaraan roda dua maupun lebih dapat dititipkan pada warga maupun pengelola parkirnya dengan membayar Rp.1000,- sampai Rp. 5000,- saja, sedangkan untuk menikmati obyek wisatanya kita hanya diwajibkan membayar biaya tiket masuk sebesar sekitar Rp 5000,-. Untuk Curug Setawing sendiri malah hanya membayar Rp. 3.000,- sudah termasuk biaya parkir sepeda motor.
Untuk fasilitas permainan di dalam lokasi ada biaya tersendiri. Seperti flying fox di obyek wisata Sungai Mudal dan Kedung Pedhut biayanya Rp. 15.000,-. Untuk sewa hammock dan pelampung sekitar Rp.5.000,- sampai Rp.10.000,-. Bahkan untuk jajan dan ngopi di dalam area obyek wisata alam masih tergolong murah. Kami sekeluarga (4 orang) hanya mengeluarkan uang sekitar Rp.40.000,- sudah dapat menikmati mie rebus telur, kopi, dan tempe mendoan.
Berada di deretan Pegunungan Menoreh dengan panorama indah, Desa Wiasata Jatimulyo memiliki aset yang sangat besar nilainya dalam menyokong pengembangan pariwisata. Selain itu, kawasan ini dirasa strategis karena berhawa sejuk dan berada di jalur wisata kabupaten Kulonprogo (Waduk Sermo- Gua Kiskendo- Puncak Suroloyo) sehingga diharapkan akan menjadi the new rising star  obyek wisata di Provinsi DIY. Suatu penyesalan jika berwisata ke Yogyakarta melewatkan air terjun surgawi Desa Jatimulyo.


Yogyakarta, 14 Januari 2017

2 komentar: