Selasa, 05 Januari 2021

WISATA KREATIF MASA PANDEMI

Pandemi Covid-19 jelas mengakibatkan dampak buruk bagi pariwisata, contohnya saat liburan Tahun Baru 2021 jumlah kunjungan wisata di Gunung Kidul mengalami penurunan 50 persen (KR/ 2/1). Akan tetapi tidak boleh diam menerima nasib saja. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) yang baru Sandiaga Uno- menyiapkan 3 gagasan untuk pariwisata Indonesia.

Opini koran Kedaulatan Rakyat tanggal 5 Januari 2021 halaman 11

Pertama adalah Inovasi, yakni inovasi pariwisata baik dalam bidang kuliner, fashion, serta kesenian dan budaya yang mencakup beragam tarian di Indonesia. Inovasi juga melibatkan infrastruktur yang berkaitan dengan interkoneksi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Destinasi wisata Puncak Becici di Desa Mangunan, Bantul berinovasi dengan atraksi Gejog Lesung untuk menarik minat wisatawan. 

Kedua Adaptasi, yaitu perlunya penerapan standar protokol kesehatan CHSE (Cleanliness/Kebersihan), (Health/Kesehatan), (Safety/Keselamatan), dan (Environment/Kelestarian Lingkungan) untuk setiap destinasi wisata, yang merupakan adaptasi destinasi wisata di tengah wabah. Saat ini perlu adaptasi dengan target pasar wisata dan ekonomi kreatif pada wisatawan nusantara (wisnus), mengingat ditemukannya kasus varian Covid-19 di luar negeri seperti di Inggris. Hampir semua destinasi wisata di DIY sudah menerapkan protokol kesehatan.

Ketiga Kolaborasi, yakni pariwisata mengedepankan komunikasi terbuka dan kerja sama antarpihak yang makin bersinergi. Saatnya berkolaborasi, tidak hanya diskusi. Jangan ada ego sektoral. Bersinergi saling menguatkan untuk pulihkan sektor andalan. Khusus di DIY sudah ada program Desa Mandiri Budaya yang men-sinergikan stakeholder dan mengurangi ego sektoral  (Sulfiantono, 2020).

Kolaborasi pemangku kepentingan antara Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk industri perbankan, dan sektor swasta dibutuhkan untuk mendukung bangkitnya sektor pariwisata dari dampak pandemi Covid-19. Bank BPD DIY sudah terlibat dalam pembuatan QRIS untuk mempermudah pembayaran tiket sehingga mencegah terjadinya antrian pengunjung di depan loket destinasi wisata.

Sektor pariwisata sangat kompleks dan mata rantainya terhubung dari hulu ke hilir, dan merupakan sektor padat karya. Tahun 2021 ada potensi cerah pariwisata daerah, terutama adanya dana desa yang relevan untuk dikembangkan di sektor pariwisata (Saputro, 2021). Desa wisata yang mempunyai potensi keindahan alam, budaya dan konten kreatif berpotensi tumbuh di tahun 2021.

Desa wisata Nglanggeran, di Kecamatan Patuk, Gunung Kidul adalah desa wisata yang mengemas ide kreatif untuk menggerakkan potensi desa wisata. Desa Nglanggeran yang awalnya (tahun 2012) menggantungkan pada wisata masal/umum pada destinasi wisata Gunung Api Purba, sudah sejak 2015 fokus pada wisata kreatif atau minat khusus. 

Jumlah wisatawan desa wisata Nglanggeran pada tahun 2014 mencapai puncak sebanyak 325.303 orang dengan pemasukan sebesar Rp 1.422.915.000,- (Handoko, 2020). Tahun 2015 mengalami penurunan sebesar 255.917 orang, tapi pemasukan bertambah menjadi Rp 1.541.990.000,-. Tahun 2019 jumlah wisatawan sebesar 103.107 orang dengan pemasukan sebesar Rp 3.272.593.400,-. Peningkatan pemasukan ini diperoleh dari kunjungan wisata minat khusus edukasi seperti pengolahan kakao/coklat; kuliner ceriping; kerajinan topeng; hingga ternak kambing yang menginap di homestay milik warga desa.

Tahun 2021 ini Desa Wisata Nglanggeran akan launching Griya Batik dan Griya Spa (Handoko, 2020). Tenaga kerja kedua wisata minat khusus ini berasal dari warga lulusan SMA/SMK. Contoh lainnya adalah Desa Wisata Jatimulyo, di Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo. Selain menggarap wisata umum  atau massal seperti di destinasi wisata Gua Kiskendo, Sungai Mudal, Air Terjung Kembang Soka, Kedung Pedut, dll; juga fokus pada wisata kreatif avitourism atau wisata pengamatan burung (birdwatching). Walaupun belum ada catatan besaran nilai rupiah yang diperoleh dari seluruh avitourism, tetapi nilai yang dikeluarkan (tourist spending) lebih besar dari wisatawan biasa. 

Wisatawan Birdwatcher bahkan akan menginap di homestay untuk memperpanjang kunjungannya jika target bidikan burung tidak tercapai. Sudah saatnya desa wisata tahun 2021 ini untuk berinovasi; beradaptasi terhadap perubahan; dan berkolaborasi agar dapat bertahan dari wabah. Dan ini sesuai teori Charles Darwin yang mengatakan, yang mampu bertahan hidup adalah yang responsif dan berinovasi terhadap perubahan.

Yogyakarta, 3 Januari 2021, pukul 14.45 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar