Sabtu, 27 Juni 2026

ARTJOG: Untung dan Riuh

 

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah semakin menyadari bahwa event bukan sekadar kegiatan seremonial. Event telah berkembang menjadi instrumen pembangunan ekonomi, promosi destinasi, sekaligus penguatan identitas budaya. Namun, perdebatan yang muncul dalam ARTJOG 2026 memberikan pelajaran penting: dampak ekonomi yang besar tidak otomatis menjamin legitimasi sosial sebuah event.

Opini koran Kedaulatan Rakyat, 27 Juni 2026 halaman 7

Riset yang dilakukan Universitas Sanata Dharma (USD) bersama Dinas Pariwisata DIY pada tahun 2024 menunjukkan bahwa festival dan event budaya memberikan kontribusi ekonomi yang sangat signifikan bagi Yogyakarta. Survei terhadap 34 festival di DIY menemukan bahwa biaya penyelenggaraan sekitar Rp16 miliar mampu mendorong pengeluaran pengunjung sebesar Rp144 miliar dan menghasilkan dampak ekonomi langsung sekitar Rp160 miliar. Dengan memperhitungkan efek pengganda (multiplier effect), setiap rupiah yang dibelanjakan untuk penyelenggaraan event budaya mampu menghasilkan dampak ekonomi berkali-kali lipat bagi daerah.

Di antara berbagai festival tersebut, ARTJOG menjadi contoh paling menonjol. Berdasarkan hasil penelitian USD yang dipaparkan dalam kajian “Penyelenggaraan Event Berdampak”, total dampak ekonomi ARTJOG diperkirakan mencapai sekitar Rp5,2 triliun. Angka ini menempatkan ARTJOG sebagai salah satu event seni dengan kontribusi ekonomi terbesar di Indonesia. Bahkan jika dibandingkan dengan PDRB DIY yang pada tahun 2021 sebesar Rp149,37 triliun, kontribusi ekonomi ARTJOG mencapai sekitar 3,5 persen terhadap perekonomian daerah.

Besarnya dampak tersebut bukan sesuatu yang muncul secara kebetulan. Studi USD menemukan bahwa wisatawan yang datang karena motivasi budaya dan menghadiri event seperti ARTJOG memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda dibanding wisatawan biasa. Mereka tinggal lebih lama, rata-rata 4,08 hari dibandingkan 1,99 hari wisatawan umum, dengan pengeluaran mencapai Rp2,33 juta per hari. Selain itu, 84 persen pengunjung menyatakan keinginan untuk kembali berkunjung ke Yogyakarta.

Dampak tersebut semakin besar karena ARTJOG tidak berdiri sendiri. Penelitian USD menunjukkan bahwa keberhasilan ARTJOG ditopang oleh strategi pengembangan Jogja Art Weeks, yang menghubungkan ARTJOG dengan ratusan kegiatan seni lainnya. Pada periode Juli–Agustus, tercatat sekitar 227 event seni dan budaya berlangsung dalam tema yang saling terhubung sehingga memperpanjang masa tinggal wisatawan dan memperluas distribusi manfaat ekonomi ke hotel, restoran, transportasi, UMKM, hingga pekerja kreatif.

Karena itulah, kontroversi ARTJOG 2026 perlu dibaca lebih luas daripada sekadar polemik seni. Kritik yang muncul dari sejumlah seniman dan kelompok masyarakat menyangkut relasi antara seni, sponsor, dan kekuasaan. Sebagian pihak menilai terdapat gejala artwashing, yaitu penggunaan kegiatan seni untuk memperbaiki citra pihak tertentu, sehingga memunculkan pertanyaan tentang independensi ruang seni (Sarjoko, 2026). Di sisi lain, penyelenggara menghadapi tantangan untuk menjaga keberlanjutan event yang memiliki dampak ekonomi sangat besar bagi masyarakat.

Pelajaran yang dapat diambil dari ARTJOG 2026 adalah bahwa keberhasilan event tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung atau nilai transaksi ekonomi semata. Dampak ekonomi memang penting, tetapi kepercayaan publik juga merupakan modal yang tidak kalah penting. Jika dampak ekonomi adalah modal finansial, maka legitimasi sosial adalah modal keberlanjutan.

Yogyakarta telah membuktikan bahwa seni dan budaya mampu menjadi mesin ekonomi yang menghasilkan triliunan rupiah bagi daerah. Namun, agar manfaat tersebut terus berlanjut, penyelenggaraan event harus dijaga dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan terhadap kritik. Dengan demikian, event budaya tidak hanya sukses secara ekonomi, tetapi juga tetap dipercaya sebagai ruang publik yang sehat dan bermartabat.


Yogyakarta, 23 Juni 2026

Ttd

 

Arif Sulfiantono, M.Agr., M.S.I.

Tim Kerja Pariwisata Ramah Muslim Dinas Pariwisata DIY & Dosen Praktisi Prodi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi UGM