Rabu, 10 Juni 2020

DESA WISATA SIAP!


Pariwisata menjadi salah satu sektor usaha yang terkena pukulan telak wabah virus korona. Tidak hanya tempat wisata, hotel, dan restoran; desa wisata juga terkena imbas pandemi Korona/Covid-19. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi ada potensi kehilangan devisa dari sektor pariwisata senilai USD 530 juta (sekitar Rp 7,4 triliun) akibat pandemi Korona ini.


Analisis Kedaulatan Rakyat tanggal 10 Juni 2020 halaman depan (headline)

Kerugian tersebut belum dihitung berdasarkan supply chain baik untuk perhotelan maupun restoran atau kuliner. Kerugian ini akan terus berlanjut bila masyarakat tidak melakukan aktivitas. Untuk wilayah DIY sendiri, menurut Dinas Pariwisata DIY kerugian di sektor Pariwisata sekitar 81 milyar.

Akhirnya Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjuk Provinsi DIY, Bali dan Kepulauan Riau menjadi proyek percontohan pertama penerapan protokol ‘new normal’ dalam rangka pemulihan ekonomi di sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi virus Korona.

Diharapkan pemulihan ekonomi melalui sektor pariwisata masih terbuka lebar, diantaranya adalah sektor wisata alam (ekowisata) dan desa wisata. Sektor ini diprediksi mampu cepat bangkit kembali paska pandemi Korona. Hasil survei Desa Wisata Institute (2020) sehubungan dengan pandemi Korona diperoleh temuan menarik.

Diperoleh fakta hanya 11,3% desa wisata mengalami keprihatinan yang mendalam, sedangkan sisanya sebanyak 88,7% merasa biasa saja walaupun ada dampak yang dirasakan, Mereka merasa tidak kehilangan pendapatan utama mereka yang memiliki eksistensi sosio kultural.

Desa Wisata Mangir yang masuk wilayah Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul telah mempersiapkan diri dalam menghadapi pandemi Korona. Dibawah duet Pak Lurah Irwan Susanto dan Sekdes Zuchri Saren Satrio yang masih muda-muda telah menyiapkan warga desanya menghadapi wabah virus ini.

Awal tahun 2020 ini Pemerintah Desa Sendangsari memberikan bantuan 12 koloni lebah klanceng jenis Trigona itama ke kelompok pembudidaya madu klanceng Dusun Mangir. 5 bulan berikutnya berkembang menjadi 20 koloni lebah. Harga madu klanceng cukup tinggi, yakni Rp 500 ribu/liter.

Budidaya madu klanceng merupakan alternatif selain wisata desa dan ternyata mampu menopang ekonomi warga di saat pandemi Korona. Tujuan besar lainnya adalah dengan budidaya madu klanceng otomatis masyarakat dapat menjaga kelestarian hutan pekarangan yang menjadikan Desa Sendangsari ‘ijo royo-royo’. Di sekiling rumah masih banyak hutan pekarangan yang terjaga dengan baik.

Sejatinya masyarakat banyak memetik pelajaran dari adanya wabah pageblug ini. Selain kreativitas masyarakat dalam menyambung hidup, juga semangat untuk bangkit dari pandemi Korona. Untuk menyambut dibukanya pariwisata kedepan, desa wisata perlu mempersiapkan protokol yang disusun oleh Pemerintah. Dinas Pariwisata DIY menjelaskan waktu dibukanya destinasi wisata di Provinsi DIY; yakni saat pandemi sudah berakhir atau tren Covid-19 sudah melandai dengan jeda waktu sekitar 3 bulan; atau direkomendasikan oleh Gugus Tugas Covid-19 DIY dan kabupaten/kota.

Selain itu juga ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh area wisata; yakni adanya fasilitas kebersihan cuci tangan dengan jumlah cukup; standar operasional prosedur (SOP) protokol CHS (Cleanlines, Health, Safety) atau kebersihan, kesehatan, dan keamanan yang dilaksanakan secara konsisten; serta pembatasan pengunjung/wisatawan agar tidak menimbulkan kerumumnan. Setelah penyiapan destinasi yang sudah ada fasilitas kebersihan, kesehatan dan keamanan, serta penyusunan protokol Covid-19 sektor wisata, kemudian dilakukan ujicoba ada simulasi protokol pada destinasi yang sudah siap.

Terakhir baru sosialisasi dan publikasi ke masyarakat umum. Selama masa tanggap darurat Korona sampai tanggal 30 Juni 2020, desa wisata diharapkan dapat mempersiapkan dan berbenah diri. Pemerintah tentu akan memilih paket wisata yang aman terlebih dahulu seperti kelompok kecil, personal atau keluarga. Kegiatan wisata minat khusus seperti petualangan, ecotourism, agrotourism, wellness memiliki peluang besar dikunjungi wisatawan.

Sistem kepariwisataan yang mengacu pada harmonisasi ekologi dan ekonomi menjadi potensi untuk dikembangkan di desa wisata. Mampukah desa wisata di wilayah DIY mampu untuk melaksanakan new normal pariwisata? Melihat sejarah bangkitnya masyarakat DIY dari bencana gempa bumi tahun 2006 tentu mampu dan optimis!

Yogyakarta, 4 Juni 2020 pukul 09.00 WIB
Ttd

Arif Sulfiantono,M.Agr.,M.S.I.
Koordinator Jejaring Ahli Perubahan Iklim & Kehutanan (APIK) Indonesia Region Pulau Jawa & pegiat Forkom Desa-Kampung Wisata DIY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar