Laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 mengirimkan pesan penting bagi dunia pariwisata. Pasar wisatawan Muslim dunia terus tumbuh dan diproyeksikan mencapai 262 juta perjalanan internasional pada tahun 2030 dengan nilai belanja sekitar USD 310 miliar. Namun, sesungguhnya angka tersebut bukanlah temuan paling menarik dari GMTI 2026.
Perubahan terbesar justru terjadi pada siapa wisatawan Muslim masa depan dan bagaimana mereka memilih destinasi. Wisatawan Muslim beberapa tahun ke depan didominasi oleh generasi muda yang lahir di era digital. Mereka sangat bergantung pada smartphone, aktif berbagi pengalaman melalui media sosial, memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam merencanakan perjalanan, serta lebih memilih destinasi yang menawarkan pengalaman autentik sesuai nilai dan gaya hidup mereka.
Bagi generasi ini, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi mencari cerita, pengalaman, dan identitas yang dapat dibagikan kepada dunia. Karena itu, GMTI 2026 mencatat adanya perubahan besar dari "Search" menuju "AI Recommendation". Wisatawan tidak lagi sekadar mencari informasi melalui mesin pencari, tetapi mulai meminta AI merekomendasikan destinasi yang sesuai dengan preferensi mereka. Destinasi yang tidak memiliki jejak digital yang kuat, informasi halal yang mudah diakses, serta narasi yang menarik akan semakin sulit ditemukan, meskipun memiliki potensi wisata yang luar biasa.
Perubahan perilaku wisatawan global tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Daerah DIY. Menariknya, hasil Analisis Belanja Wisatawan Tahun 2025 yang dilakukan Dinas Pariwisata DIY justru memperlihatkan bahwa dua komponen terbesar pengeluaran wisatawan—baik Nusantara maupun mancanegara—berada pada sektor yang sangat berkaitan dengan konsep Pariwisata Ramah Muslim. Wisatawan Nusantara mengalokasikan belanja terbesar pada akomodasi (19,96%) dan makanan-minuman (18,73%), sedangkan wisatawan mancanegara membelanjakan pengeluaran terbesar pada akomodasi (33,66%) dan makanan-minuman (19,43%). Artinya, sebagian besar uang wisatawan sesungguhnya berputar pada dua sektor yang menjadi wajah utama pelayanan sebuah destinasi.
Temuan tersebut menjadi semakin menarik apabila dibaca bersamaan dengan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pariwisata Ramah Muslim. Regulasi ini menempatkan makanan dan minuman halal, fasilitas ibadah, serta sanitasi yang memadai sebagai layanan dasar yang harus tersedia bagi wisatawan Muslim. Fasilitas ibadah dan sanitasi ini ada di akomodasi seperti hotel, homestay, guest house.
Dengan kata lain, regulasi Pariwisata Ramah Muslim tidak sedang membangun pasar baru, tetapi justru memperkuat sektor yang sejak awal telah menjadi penyumbang terbesar belanja wisatawan. Ketika hotel menjadi komponen pengeluaran terbesar, maka peningkatan layanan ramah Muslim di sektor akomodasi akan meningkatkan kenyamanan sekaligus daya saing. Demikian pula ketika kuliner menjadi pengeluaran terbesar kedua, kepastian kehalalan produk bukan lagi sekadar isu religius, tetapi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan wisatawan.
Bagi DIY, peluang tersebut sesungguhnya sangat besar. Yogyakarta tidak hanya memiliki ribuan usaha kuliner dan akomodasi, tetapi juga mewarisi jejak panjang Peradaban Mataram Islam. Keraton Yogyakarta, Masjid Gedhe Kauman, Masjid Pathok Negoro, Kotagede, tradisi Sekaten, Grebeg, hingga filosofi Hamemayu Hayuning Bawana merupakan modal budaya yang sulit ditiru oleh daerah lain. Modal tersebut kini mulai diperkuat melalui implementasi Pariwisata Ramah Muslim di tingkat desa wisata.
Desa Wisata Widosari telah mengembangkan kampung ternak kambing bersertifikat halal, sedangkan Desa Wisata Jatimulyo menunjukkan bahwa sertifikasi halal dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan, kerukunan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Keduanya memperlihatkan bahwa konsep Pariwisata Ramah Muslim bukan sekadar menyediakan fasilitas ibadah, tetapi membangun ekosistem destinasi yang berkualitas. Namun, keberhasilan tersebut perlu dibawa ke level berikutnya.
Generasi wisatawan Muslim yang dipotret GMTI 2026 tidak hanya mencari hotel halal atau restoran bersertifikat, tetapi juga menginginkan informasi yang mudah ditemukan oleh AI, cerita yang menarik di media sosial, serta pengalaman yang autentik ketika berada di destinasi. Karena itu, tantangan DIY hari ini bukan hanya memperbanyak sertifikasi halal, tetapi juga memastikan seluruh potensi wisata sejarah Mataram Islam, desa wisata, kuliner halal, hingga jaringan masjid bersejarah hadir dalam ekosistem digital yang mudah dikenali oleh mesin pencari maupun AI.
Yogyakarta, 7 Agustus 2026
Ttd
Arif Sulfiantono,
M.Agr., M.S.I.
Tim Kerja Pariwisata
Ramah Muslim Dinas Pariwisata DIY & Dosen Praktisi Prodi Bisnis Perjalanan
Wisata Sekolah Vokasi UGM
