Minggu, 30 September 2012

Beijing, China (10): ANTARA PUASA DAUD DAN GODAAN WANITA


Hari kedua di Beijing, aku sangat ingin menjalankan puasa Syawal. Aku tidak tahu mengapa keinginan berpuasa sangat menggebu-gebu, mungkin aku sangat kesepian. Hanya Allah-lah teman terdekat. Sebelum sahur hari pertama aku sempatkan untuk sholat tahajud dahulu. Saat itulah sholatku benar-benar khusyuk. Surat Ar-Rahman yang aku lantunkan sampai meresap dalam hati.

Masjid Niu Jie, masjid tertua di China, terletak di kampung muslim di Beijing

Aku sahur dengan 1 butir telur asin yang aku bawa dari rumah Jogja; roti sobek sisa yang aku beli di Jakarta; dan minum sari kurma panas. Air panas aku peroleh dari wastafel, karena aku belum punya alat pemanas. Air wastafel aku setel sangat panas, mungkin menyamai suhu air mendidih. Sebetulnya aku tahu kalau air wastafel kurang begitu jernih, tapi dengan mengucap Bismillah tetap aku minum karena terpaksa. Puasa hari ketiga aku sudah membeli teko listrik seharga 20Yuan.

Alhamdulillah aku dapat menjalankan ibadah puasa Syawal penuh tanpa putus. Secara fisik tidak terlalu terasa lapar, karena masih berdekatan dengan puasa bulan Ramadhan. Akan tetapi, badan terasa capek, terutama kaki, karena satu minggu ‘dipaksa’ jalan kaki 1-3 Km tiap hari untuk mengurus registrasi. Memang orang-orang China terkenal dengan budaya jalan kaki dan bersepeda.

Selesai menjalankan puasa Syawal aku berniat meneruskan puasa Daud, setelah aku beri waktu 1 hari tidak puasa. Insya Allah niatku berpuasa Daud mengharap ridho Allah, agar betul-betul diberi kesehatan dan keselamatan, terutama keimanan selama studi di China. Selain itu juga ada niat untuk menghemat pengeluaran, karena di sini aku betul-betul hidup dari uang beasiswa, sisa uang beasiswa harus dapat aku gunakan untuk ongkos transportasi saat pulang ke Jogja. ATM gaji aku serahkan istri untuk keperluan keluarga.

Hari-hari pertama aku menginjakkan kaki di China, saat pertengahan akhir dari musim panas. Aku sangat kaget saat melihat beberapa wanita China maupun mahasiswi yang berpakaian mini dengan short-skirt (rok/celana pendek) yang memperlihatkan ‘putihnya’ ujung kaki sampai paha atas.  Pakaian itu juga mereka gunakan saat kuliah dalam kelas.

Aku bandingkan dengan teman mahasiswi dari Barat, seperti Eve dari USA malah berpakaian lebih sopan. Aku belum pernah melihat Eve memakai short-skirt, apalagi dalam kelas.
Oleh karena itu, puasa Daud sangat aku perlukan untuk menjaga keimanan, disamping harus Ghodul Bashor (menundukkan pandangan) saat berjumpa dengan ‘wanita’ penggoda iman.

Teman dari LIPI yang sebut saja namanya Tayo, yang juga sedang kuliah S2 di Beijing pernah menceritakan pengalaman pribadinya. Oh iya, Tayo saat ini tahun kedua di Beijing, 1 tahun lagi dia lulus dari Akademi Animal China. Tayo bercerita pernah diajak berhubungan seks dengan wanita pegawai kantor Universitasnya.

Tayo mengatakan bahwa dia sudah beristri dan mempunyai anak. Wanita itu malah mengatakan kalau dia ingin mencoba dengan laki-laki yang sudah berkeluarga. “Alhamdulillah mas, aku dapat menolaknya,” kata Tayo.
Wanita itu bertipe “Sex for Partner”, artinya berhubungan seks tanpa ada jalinan pacar apalagi pernikahan. Just for fun, hanya untuk pemuasan nafsu. Naudzubillahi min dzalik …

Pernah dalam Universitasnya Tayo ada 2 kejadian ketahuan membawa wanita masuk ke dalam kamar apartemennya. Akhirnya mereka dipermalukan di depan umum dengan memasang pengumuman melalui poster ditempel; serta didenda 2000 Yuan (1 Yuan= Rp. 1500,-).
“Kalau mujahid-mujahid berjihad dalam berperang, kita disini juga berjihad mas,” tambah Tayo.

Yah, aku sangat setuju dengan ucapannya. Kami menyadari sebagai seorang laki-laki normal dan sudah menikah, kami sangat lemah dalam menghadapi godaan wanita. Apalagi wanita-wanita China banyak yang cantik-cantik.
Hanya dengan bekal ibadah dan pertolongan dari-Nya semoga kami tetap istiqomah dalam keimanan. Amiin.

Beijing, 30 September 2012, pukul 16.00 waktu China

2 komentar:

  1. wah, rajin banget nulisnya, ntar jadi otobiografi neh...hebat, trus menulis ya, trus dibukukan. 20 tahun yang akan, akan jadi sejarah yang tak terlupakan dan berharga buat anak cucu..he he

    BalasHapus
  2. tetap semangad dalam berjihad! ketika lingkungan berkonspirasi membentuk godaan, azam diri untuk bertahan dalam prinsip menjadi kunci penguat agar godaan tidak mampu merusaknya, selebihnya Allah menjadi satu-satunya harapan.

    BalasHapus