Jumat, 04 Mei 2018

MUSLIM BERILMU


Untuk mengajarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, Allah SWT menurunkan Rasulullah Saw untuk membina ummat selama kurang lebih 23 tahun. Metode yang digunakan adalah tarbiyah atau pendidikan. Tak heran kader-kader yang dibina oleh Rasulullah Saw adalah generasi hebat yang selalu dikenang sepanjang masa.

Cahaya Jumat Tribun Jogja 4 Mei 2018

Melalui pendidikan  tarbiyah mereka mencapai derajat yang tinggi, yakni orang-orang yang berilmu. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi manfaat dan barokah bagi alam berikut isinya. Tanpa iman, akal akan berjalan sendirian sehingga muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia.

Demikian pula iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengelola alam berikut isinya. Sedemikian pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah SWT maupun manusia (QS. Al Mujadilah (58) : 11). Bahkan setan kewalahan terhadap muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah terpedaya oleh tipu muslihat setan.

Sahabat Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang berakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”

Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.”

Kebodohan adalah salah satu faktor kemunduran ummat dan penyebab kerusakan. Oleh karena itu, Rasulullah Saw menggunakan metode tarbiyah melalui pengajaran di emperan masjid Nawabi, Madinah (Shuffah). Rasulullah Saw menunjuk Ubaidah bin Shamit ra menjadi guru di madrasah Al-Shuffah untuk mengajar tulis-menulis dan ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Komunitas ilmuwan Islam ini kemudian mewariskan ilmunya ke generasi berikutnya dan demikian selanjutnya sehingga membentuk tradisi keilmuan dan juga disiplin ilmu. Melalui pendidikan yang dilandasi aqidah yang benar akan menjadi manusia yang berilmu sehingga terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah-belah. Bahkan semua permasalahan umat Islam dapat diselesaikan jika kembali pada worldview Islam dan tradisi keilmuan. Allahu ‘alam.

Patangpuluhan, 3 Mei  2018, pukul 17.30 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar