Jumat, 27 Juni 2014

Gala DINNER Pasca DEFENSE

Tanggal 9 Juni 2014 momen paling bersejarah bagiku selama 2 tahun tinggal di Beijing (2012 – 2014). Hari senin pukul 10.00 tanggal tersebut merupakan waktu ujian defense thesis yang aku jalani. Segala jerih payahku selama studi master, termasuk perjalananku mencari cari data riset di China (Beijing Songshan National Nature Reserve dan Wolong National Nature Reserve, Provinsi Sichuan)  ditentukan pada waktu tersebut.
Alhamdulillahirrabbil alamin, ujian berlangsung sukses walaupun waktunya maju dari jadwal pukul 11.00 menjadi pukul 10.00. Giliranku adalah yang terakhir untuk sesi pagi-siang.

Suasana ujian thesis (defense) yang santai

Rencana aku mau pulang, kembali ke kamar untuk tadarus, istirahat, dlsb. Tapi aku diminta menunggu hasil sidang dewan penguji. Sekali lagi Alhamdulillah 5 orang yang sidang sesi pertama ini semuanya lulus.
Ternyata kita masih diminta untuk jangan pulang dahulu, karena akan diajak makan siang bersama dewan penguji dan beberapa dosen, seperti supervisorku, Prof. Maluyi.
Aku kira restoran tempat makan siang/lunch jauh karena naik taksi, ternyata masih dekat kampus, depan Bank of China. Hanya jalannya memutar sehingga terasa jauh.
Dari luar tidak kelihatan seperti restoran, karena berupa bangunan lumayan luas dan bertingkat. Kita langsung diajak masuk ruangan di lantai 2. Mewah juga restorannya. Ini restoran termewah selama aku diajak makan oleh Supervisor bersama students di bawah bimbingannya. Ada 9 orang duduk menghadap meja makan berbentuk lingkaran, khas restoran China kelas menengah ke atas. Di atas meja ada kaca bentuk lingkaran yang bisa diputar, sehingga saat mengambil makan cukup memutar kaca ini.
 
Suasana dan kondisi restoran kelas menengah - atas

Awalnya aku ragu dengan makanannya, karena ini restoran biasa. Saat datang menu awal, aku hanya makan jenis sayuran dan ikan saja. Kali ini menu ikannya berbeda dengan yang biasa aku makan, ikan yang tersaji di hadapanku adalah ‘sushi’ khas Jepang. Dagingnya benar-benar empuukk dan terasa segar, maknyuss dahh!!
Kemudian menu kesukaanku datang, yakni ‘yang rou’ atau daging domba. Professor Maluyi seakan melihat ‘kegelisahanku’, beliau berkata, ‘Don’t worry, this is muslim food’. Yup, supervisorku seorang muslim juga.
Dengan basmalah aku makan menu kesukaanku ini. Wow, ternyata dimasak khas Xinjiang atau khas masakan muslim. Josshh gandosshh!!
Alhamdulillah saat melewati meja kasir saat pulang, aku melihat ada papan kalau restoran tidak menyediakan minuman beer maupun wine. Jadi restoran ini juga menyediakan masakan muslim. Pantas tadi Duan Jie (asisten Prof. Maluyi) membawa beberapa botol wine.

Lunch berhenti disini??
Tidaakkkk!!
Ternyata masih ada lanjutannya, DINNER!
Masya Allah.

Ujian defense sesi ke-2, yang dimulai setelah makan siang selesai pada pukul 17.00. Rombongan peserta ujian defense pun melalukan dinner bersama. Beruntung bagi yang ikut jadwal pagi sampai siang seperti aku tetap diajak untuk dinner. Lokasi masih di restoran yang sama, hanya beda ruangan.
Kali ini lebih besar, karena lebih banyak peserta (sekitar 20an orang)yang semuanya tingkat master dan doctoral di bawah supervisi Profesor Maluyi. 2 meja kita pakai untuk dinner kali ini. Dinner menjadi special karena Ma Laoshi juga mengajak istrinya. Aku juga diperkenalkan.
Ajang dinner menjadi moment informal untuk saling mengenal satu-sama lain. Mahasiswa mendatangi dosen dan profesornya dan mengucapkan terima kasih dengan bersulang. Biasanya bersulang dengan beer atau wine, sambil mengucapkan ‘Ganbei’, atau Cheers. Tak jarang juga dengan teh, juice atau soft drink seperti aku.

Ganbei saat gala dinner

Benar-benar terasa tiada jarak antara dosen/professor dengan mahasiswa bimbingannya. Kedua belah pihak juga saling ngobrol santai, membicarakan hasil riset, keluarga, masa depan, dan lain sebagainya. Aku perhatikan juga dosen/professor mempercayakan penuh kerja laboratorium pada mahasiswa.
Selama mengerjakan thesis tiap hari aku ke ruangan meeting laboratorium. Mahasiswa bebas melakukan penelitian tanpa ijin tiap hari kepada kepala atau asisten laboratorium. Tersedia juga computer, hotspot gratis, sampai alat masak dan teh. Beda jauh dengan kondisi di tanah air yang aku alami saat studi di UGM lebih dari 10 tahun yg lalu, dimana tiap hari harus ijin asisten/kepala laboratorium.
Dinner juga dijadikan ajang bagi mahasiswa untuk berterimakasih pada teman-temannya, terutama teman kerja di riset atau teman kelas. Termasuk juga dosen junior yang mengucapkan terima kasih pada dosen seniornya (professor). Moment ini juga aku manfaatkan untuk berterima kasih pada semua dosen/professor, staff dan teman-teman yang membantuku.
Mereka juga sangat senang. Yup, pada dasarnya teman-teman China sangat helpfully. Beberapa diantaranya bahkan mengucapkan “We are friends forever” J. Mereka juga mengajak aku untuk datang ke kota kelahirannya. Alhasil dinner 3 jam dari pukul 18.00 tak terasa selesai pukul 21.00. Alhamdulillah tidak ada yang fly alias mabuk ..

Apakah Dinner berakhir disini??
TIDAAKK!!

2 pekan sesudah dinner pasca defense tersebut, aku ternyata mendapat undangan dari teman China putri -Yaona- kalau aku diajak dinner bersama teman-teman Master dibawah Profesor Maluyi lagi. Awalnya aku kira yang ngajak Profesor Maluyi makanya walaupun aku sedang capek aku sanggupi untuk datang.
Ternyata saat dinner, Profesor Maluyi tidak datang, Yaona mengatakan kalau dinner ini adalah traktirannya dia, bersama Yudandan dan Limei. 3 orang gadis China cantiks. Mereka mentraktir kami 8 orang (4 putra dan 4 putri) yang telah lulus duluan, mereka masih setahun lagi. Wow, very surprise!!

Gala dinner traktiran junior

Budaya yang sangat bagus. Junior mentraktir senior dengan ikhlas. Baru kali ini aku benar-benar sangat terkejut plus bangga sekali dengan sikap mereka. Apakah ini budaya mahasiswa China sini atau budaya yang dibangun dibawah Profesor Maluyi??
Aku Tanya pada beberapa teman sekelas ternyata mereka tidak pernah diajak makan malam juniornya, bahkan ada beberapa yang malah tidak diajak dinner supervisornya.  Yah, semoga aja ini budaya yang dibangun oleh supervisorku yang juga seorang muslim.
Dalam perjalanan pulang aku berpikir, alangkah asyiknya juga kalau di tanah air juga ada moment dinner seperti ini sambilng ‘ngangkring’ ala jogja atau lesehan .. J

Beijing Forestry University, 27 Juni 2014, pukul 04.50

Ditulis untuk website www.lingkarpengajianbeijing.com

Sabtu, 21 Juni 2014

When My MOSQUE is Closed ...

Hari Jumat (20 Juni 2014) pagi yang seharusnya ceria dan penuh barokah menjadi menyedihkan saat memperoleh kabar dari teman Pakistan, Hasan.
Saat aku Tanya tentang pelaksanaan ibadah sholat Jumat di Kedutaan Pakistan, Hasan menjawab kalau hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan sholat jumat di Kedutaan Pakistan.
Kemudian Hasan mem-posting di grup Wechat untuk memberitahu kalau hari ini Kedutaan Pakistan terakhir mengadakan ibadah sholat Jumat, menyusul Kedutaan Sudan yang sudah lebih dulu tutup sekitar satu bulan yang lalu.

Yup, di ibukota China ini selain masjid China, kedutaan yang membuka ibadah sholat Jumat untuk umum adalah Kedutaan Sudan dan Pakistan.

Suasana setelah sholat Jumat di halaman Kedutaan Sudan
  
Aku lebih senang sholat Jumat di Kedutaan Sudan, karena lebih bersih dan sangat nyaman ruangannya. Lokasinya mudah dijangkau, tinggal naik subway dan turun di stasiun Tuanjiehu, exit A. Bacaan imamnya bagus. Bisa menjadi obat kangen kampung halaman. Sering kali selesai sholat Jumat ada pengumuman seorang yang menjadi Muallaf.

Pengumuman masukkan seorang Muallaf selesai sholat Jumat

Aku bertanya pada Hasan tentang sebabnya tutup kedua Kedutaan tersebut. Hasan menjawab ini adalah dampak dari kerusuhan yang terjadi di provinsi Xinjiang, juga beberapa tempat yang dilakukan oleh orang Uyghur, dari Xinjiang. Yaahh, persis sama dengan fitnah terorisme di Indonesia. Sebab lain kata Hasan, adalah adanya misi dari orang-orang nashara yang sangat gencar dan tidak senang pada perkembangan Islam di China.
Dampak lain dari isus terorisme yang difitnahkan pada muslim Uyghur, Xinjiang adalah mayoritas masjid China dipasang pintu detector. Jadi jika akan masuk ke dalam masjid harus melalui pintu ini. Aku sangat kaget saat mengetahui hal ini pas sholat Jumat di masjid Haidian.


Pintu detector di masjid Haidian

Masjid Haidian adalah masjid terdekat dengan kampusku (± 8 Km), cukup dengan naik bus nomor 110 di depan kampus (bus stop Beijing Forestry University) selama sekitar 20 menit sudah sampai lokasi (bus stop Beijingzhidizhenku). Masjidnya unik, berusia 300 tahun. Mayoritas imam dan penceramah di masjid-masjid Beijing bacaannya khas orang China, kurang jelas & kurang tartil.

Penceramah/khotib disini juga sangat diawasi oleh pemerintah. Mengingatkan pada jaman Orde Baru akhir tahun 70an dan awal 80an, yakni saat penceramah/ustadz harus didata dan wajib punya SIM (Surat Ijin Muballigh).

Kasus ini sekali lagi mengingatkan aku akan materi wajib di taklim/kajian rutin, Ghazwul Fikri atau Perang Pemikiran.

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”
(Q.S. Lukman: 6)


Berita ini juga aku posting di grup wechat pelajar muslim Tiongkok. Ada seorang kawan yang memberi komentar, Indonesia buat aja sholat Jumat sendiri. Langsung aku jawab, “kalau bisa dan berani.” Yup, dulu (15-20 tahun yang lalu) sebelum KBRI pindah ke lokasi sekarang, KBRI punya masjid lumayan besar dan dijadikan tempat untuk ibadah sholat Jumat. Lambat laun bubar karena tidak ada yang mengurusi.

Sambil mengingat ayat berikut:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. At-Taubah: 115)

aku berjalan agak gontai menuju Masjid Haidian untuk menunaikan sholat Jumat ..

Beijing Forestry University, 20 Juni 2014, pukul 10.00
ditulis untuk http://lingkarpengajianbeijing.com/

Kamis, 06 Maret 2014

M. Natsir Mulai Berpartisipasi Dalam Kegiatan Dunia

Pada tahun 1956, Muhammad Natsir mendapat undangan dari Muktamar Alam Islami yang khusus membicarakan Palestina dan diadakan di ibukota Syria, Damascus. Tidak kurang dari 80 orang utusan yang datang dari berbagai negara termasuk Sheikh Maududi dari Pakistan, Sheikh Abu Hasan An-Nadwi dari India, dan Sheikh Az-Zahawy dari Irak.

Tentang Sheikh Abul 'Ala Maududi diterangkan bawa dia pernah ditangkap oleh Pemerintah Pakistan karena dituduh membahayakan negara dan masyarakat. Oleh pengadilan kemudian dia dijatuhkan hukuman mati. Berita itu lantas tersiar luas ke dunia Islam yang mengenal perjuangannya. Sehingga timbullah protes keras dari berbagai negara Islam, antara lain Indonesia. Ummat Islam dengan perantaraan BKOI (Badan Kontak Organisasi Islam) di Jakarta mengirimkan sepucuk surat yang menganjurkan kepada Pemerintah Pakistan meninjau kembali keputusan tersebut.

Pemerintah Pakistan dapat memahami reaksi-reaksi hebat yang datang dari berbagai negara Islam yang menyadari pentingnya kehadiran Maududi sebagai tokoh Ummat Islam. Sheikh Maududi kemudian dibebaskan. Tatkala tiba di medan Muktamar Alam Islami di Damascus itu dia disambut dengan meriah dan gembira.

Muktamar dapat dimulai tepat pada waktu yang telah ditentukan. Sidang pembukaan diketuai oleh utusan yang tertua, dari Irak. Di waktu pemilihan ketua, Indonesia mengusulkan seperti kebiasaan konfrensi internasional, yaitu agar pimpinan dipegang oleh tuan rumah. Datang usul lain dari negara-negara Arab, supaya Indonesia menjadi ketua, sedangkan Pakistan dan India jadi Wakil Ketua I dan Wakil Ketua II.

Dengan aklamasi sidang menyetujui usul ini.

Dengan melalui pembicaraan yang agak lama dibentuk kemudian pelbagai panitia, misalnya bidang politik, sosial-ekonomi, organisasi, dan lainnya. Kemudian panitia-panitia itu mengadakan sidang sendiri-sendiri, hingga tercapai keputusan-keputusan yang baik. Dalam pembicaraan-pembicaraan sering terjadi perdebatan sengit tetapi setelah selesai mereka berlaku seperti biasa. Ya, disinilah letak ketinggian jiwa persaudaraan dalam Islam.



Ada satu anekdot dalam persidangan, antara lain:


Delegasi Indonesia bertanya,  “Ada 7 negara Arab dengan berpuluh-puluh juta rakyat, menghadapi satu negara kecil Israel dengan penduduk sekitar 2,5 juta. Mengapa Israel bisa menang, kenapa Front Arab kalah??

Dijawab oleh Sekjen
Muktamar, Dr. Sayid Ramadhan: “Sebetulnya mudah saja. Yaitu oleh karena kami ber-tujuh itu. Sedangkan mereka ber-satu”.

#dari Buku 'Muhammad Natsir, 70 tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan', Jakarta: Pustaka Antara, 1978. Penyusun: Panitia Buku Peringatan M. Natsir/M. Roem 70 tahun, halaman 139.

Minggu, 02 Februari 2014

WISATA KONSERVASI PANDA DI CHINA

Rasa takjub mewarnai perjalanan kami selama berkunjung ke ‘rumah’ satwa langka dan lucu yang menjadi ikon negara berpenduduk terbesar di dunia ini. Tak lengkap jika berkunjung ke China, tapi belum melihat Giant Panda atau Panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) di habitat aslinya, walaupun sudah berkunjung ke Tembok Besar (Great Wall) atau Istana Terlarang (Forbidden City). Apalagi satwa langka ini menjadi logo resmi organisasi pelestarian satwa liar PBB, yakni WWF (World Wildlife Foundation). 

Kota Chengdu yang juga menjadi ibukota provinsi Sichuan menjadi tanah leluhur dari satwa Panda sejak zaman kuno. Wilayah ini masuk pada bagian Barat Daya wilayah China (South Western), berdampingan dengan pegunungan Tibet. Populasi Panda sekarang tidak sampai 2000 ekor. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan dan melindunginya pada bulan Maret 1987 didirikan Chengdu Giant Panda Breeding.

 dimuat di koran 'Kedaulatan Rakyat', tanggal 2 Februari 2014

Lembaga yang berawal dari Kebun Binatang ini juga mempunyai tujuan untuk mempromosikan Chengdu sebagai pusat dari habitat Panda (The Home Land of The Giant Panda).  Setelah bekerja tanpa lelah sejak 1950-an, sekarang Pusat Konservasi Panda fokus pada penelitian, pengembangbiakan (breeding), dan konservasi Panda. Ketika tingkat populasi telah mencapai tingkat yang diinginkan, Lembaga ini akan bergeser upayanya ke arah membantu Panda beradaptasi dengan habitat alami mereka sehingga dapat dilepas-liarkan kembali ke habitat asli mereka.

Lokasi Pusat Konservasi Panda berada 70 Km dari pusat kota Chengdu. Sangat mudah dijangkau, baik dengan transportasi umum berupa bus maupun taksi. Lembaga ini mengintegrasikan penelitian ilmiah dan pengembangbiakan Panda, pendidikan konservasi, pendidikan pariwisata, dan acara-acara kebudayaan bertema Panda. Untuk menikmati kawasan konservasi Panda seluas 100 hektar ini harus membayar tiket masuk sebesar 58RMB atau Rp 116.000,- (dengan kurs 1 RMB= Rp 2.000,-).

Mengunjungi kawasan ini mengingatkan akan tokoh ‘Po’ dalam film animasi Kungfu Panda yang sangat terkenal. Kombinasi ciri-ciri fisik Panda yang sangat mirip boneka beruang, bulu warna hitam dan putih, tubuh dan pipi bulat yang lembut, dan sifatnya yang menyenangkan membuat mereka menawan bagi pengunjung. Kesan satwa lucu dan sangat menggemaskan sangat mewarnai saat melihatnya secara langsung.
Selain jenis Panda raksasa yang berbulu hitam dan putih, juga ada Panda merah atau Red panda (Ailurus fulgens). Sesuai namanya, Panda merah memiliki bulu tebal berwarna merah kecoklatan dan berkaki hitam. Mukanya berbentuk bulat berwarna putih dengan garis merah kecoklatan dari mata ke mulutnya. Buntutnya panjang dengan duabelas cincin merah dan coklat-muda berselang-seling. Tubuhnya lebih kecil daripada Panda raksasa, sekilas sangat mirip dengan rakun.

Untuk mengenal lebih jauh tentang Panda, pengunjung dapat belajar mulai dari sejarah zaman purba sampai kondisi terkini melalui Museum yang ada dalam lokasi. Selain itu dalam kawasan ini juga ada tempat pengasuhan bayi-bayi Panda. Pengunjung juga dapat bersantai di danau kecil sambil memberi makan Angsa hitam dan ratusan ikan koi sambil menikmati teh asli China. Mengunjungi lokasi ini dijamin ada kepuasan tersendiri, apalagi Panda juga sering digambarkan sedang berbaring santai sambil makan bambu, bukan berburu, sehingga meningkatlah citranya sebagai hewan manis dan cinta damai.

Minggu, 04 Agustus 2013

MEMBUAT RESENSI BUKU (A BOOK REVIEW)



Sudah sering kita mendengar, membaca dan mengikuti acara resensi buku, bedah buku atau dalam bahasa Inggrisnya a book review/a book report. Penulis lebih enak memakai istilah resensi buku daripada bedah buku. Penulis sudah berusaha mencari istilah resensi/bedah buku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru terbitan Balai Pustaka, tapi tidak menemukan. Secara sederhana, menurut penulis, resensi buku adalah mengungkapkan kembali isi suatu buku secara ringkas/garis besar dengan tambahan saran berupa kekurangan dan kelebihan buku tersebut menurut aturan yang ditentukan. Manfaat terbesar kita membuat resensi adalah mengasah intelektual dan memahami isi buku secara mendalam, sehingga sulit terlupakan. Marilah kita bahas tentang resensi buku, manfaat dan cara membuatnya.

salah satu resensi buku yang pernah saya kirim ke koran KR tanggal 23 Oktober 2006

Manfaat Membuat Resensi Buku
1)   Manfaat pertama jelas mengasah intelektual, karena dengan me-resensi kita dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan buku tersebut, sekaligus memberi masukan. Kita dapat membandingkan dengan teori atau wacana yang diungkapkan oleh penulis buku yang kita resensi dengan teori yang diungkapkan penulis lain dari buku lain.
2)      Memahami secara mendalam isi buku yang kita resensi, sehingga tidak mudah lupa dan dapat sebagai bahan diskusi.
3)      Mendapat uang, jika resensi buku yang kita buat dimuat di koran atau majalah. Mau tahu berapa fee yang kita peroleh? Dari koran lokal Jogja seperti KR mendapat 50 ribu, ditambah dari penerbit yang memberikan uang atau buku terbaru. Koran nasional, seperti Media Indonesia dan Seputar Indonesia (Sindo) 100 ribu, KOMPAS 150 ribu. Dari penerbit buku, GIP dan MIZAN 100-150 ribu. Kita dapat meminta minimal 3 buku terbaru dari penerbit yang tidak mau memberikan fee. Belum lagi jika kita mengirim ke jurnal ilmiah dalam negeri atau luar negeri/internasional.
4)      Jika produktif menulis resensi buku dan dimuat di koran, kita akan dikenal oleh penerbit buku, sehingga akan diminta penerbit merensensi buku yang akan dicetak. Jelas dapat fee dan dapat untuk hidup atau membayar SPP, seperti yang dilakukan teman-teman penulis muda KUTUB dari ponpes Hasyim Asy’ari, Krapyak.

Cara membuat resensi buku
Berikut adalah cara membuat resensi buku yang penulis ringkas dari ”How To Write A Book Report”, karya Myrna Friend, Erindale Campus Library, University of Toronto. Cara ini sudah diterima secara internasional.

1)       Memberi informasi bibliografi buku, seperti : nama penulis/pengarang, judul lengkap, editor (jika ada), tempat (kota) penerbit, penerbit, bulan atau tahun terbit dan jumlah halaman (ditambah romawi).
2)    Bandingkan materi tulisan dengan keadaan sekarang, apakah sesuai untuk zaman sekarang? Deskripsikan penulis/pengarang: latar belakangnya, pekerjaan, reputasi, dll.
3)            Apakah hal-hal atau keadaan yang penting ada hubungannya dengan buku tersebut? Apa sumber materi penulis?
4)      Jenis buku (sejarah, biografi, kritik tulisan orang lain/literacy critism, sastra, dll) apa yang kita resensi?
5)     Jelaskan tujuan penulis dalam menulis buku yang kita resensi dan terangkan batasan tulisannya dengan tema. Apakah buku tersebut mengusung tema populer? Apa hasil survei? Untuk siapa buku tersebut ditulis, apa ditulis untuk kaum pelajar, masyarakat awam, dll?
6)        Apa tema buku tersebut? Cari tema di bagian pendahuluan dan kesimpulan. Selama membaca, coba elaborasi/kaitkan dengan tema buku, apa masih berhubungan?
7)            Apa asumsi penulis yang tersirat atau tersurat (jika ada) berhubungan dengan materi yang dia tulis?
8)            Jelaskan struktur dari buku (daftar isi): bagian-bagian buku (seperti pendahuluan, isi, kesimpulan), apakah pembagian buku tersebut valid? Apakah appendiks, bibliografi, catatan-catatan, indeks buku tersebut berhubugan dengan isi buku?
9)            Cari point utama atau konsep kunci!
10)        Apa jenis data yang penulis gunakan dalam mendukung argumennya? Bagaimana dia gunakan data tersebut dalam berargumen? Apakah argumennya sesuai data?
11)        Beri bagian penting dari buku dengan kutipan!
12)   Apakah penulis sukses dalam mengkomunikasikan wacana atau teorinya? Apakah dia sukses dengan tujuannya? Apakah malah bias?
13)    Jelaskan tujuan lain tulisan dari buku yang kita resensi. Apakah tulisannya dalam bahasa yang bakudan efektif?
14)        Apakah buku tersebut berkembang dari isu atau tema penelitian?

15)    Baca secara mendalam dan kritis. Alasan utama kemampuan membaca buku, yaitu: agar dapat mengikuti alur pikiran penulis, melihat hubungan di antara idenya, menghubungkan idenya dengan pengalaman kita, dan meng-evaluasinya dengan cerdas dan kritis. Membaca kritis, karena dimungkinkan ada bagian dari buku tersebut yang kontorversial dan mencari kekuatan serta kelemahannya. Bandingkan dengan teori lain yang diungkapkan oleh penulis lain dari buku lain. Pembaca yang hati-hati dapat memperhatikan hal-hal yang diperbuat penulis, seperti tema yang meloncat-loncat, bias tema, dll. Perhatikan kata atau kalimat yang tidak kita mengerti. Baca buku sampai selesai dan ikuti argumennya (dengan membacanya) sampai selesai, jangan meng-justifikasi sebelum kita selesai membaca.

16)       Resensi di koran dengan jurnal ilmiah tentu berbeda. Resensi di koran biasanya berupa bedah buku dengan isi ringkasan buku, tujuan tulisan, latar belakang penulis, kesimpulan,  kelemahan dan keunggulan tulisan serta kata/kalimat yang digunakan sering tidak baku atau populer dan diperuntukkan untuk masyarakat umum (contoh bisa dilihat di bagian utama website ini, resensi buku: ”Hidup sehat dengan tahajud” yang penulis kirim dan dimuat di KR). Resensi di jurnal ilmiah ditambah teori lain yang diungkapkan penulis lain dan bahasa yang digunakan bahasa baku serta untuk kalangan terbatas (biasanya terpelajar).

Itulah manfaat dan cara membuat resensi. Semoga dapat memberikan manfaat. Boleh memberikan tambahan, saran atau bertanya. Terima kasih.

Patangpuluhan, 19 November 2006 (pukul 23.20)